Thursday, May 9, 2013

Menembus Bukit Barisan Selatan, Mempelajari Makna kehidupan

-->
            Jika ditanya apa perjalanan saya yang paling berkesan, sulit untuk menjawabnya. Semua tempat yang  pernah saya kunjungi selalu memiliki kesan yang mendalam. Pengalaman yang didapat sangat unik di tiap masing-masing tempat. Termasuk salah satu diantaranya adalah perjalanan saya menembus hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, yang terletak di perbatasan antara Lampung dengan Sumatera Selatan.       

            Perjalanan ini saya lakukan bersama tim BKP MAPALA UI 97. Perjalanan ini merupakan salah satu bagian dari pendidikan para calon anggota MAPALA UI. Saat itu kami membuka jalan dari perbatasan Lampung dengan Bengkulu, di tepi pantai barat Sumater. Target tim akan menembus hingga Danau Ranau di Sumatera Selatan. Dari awal perencanaan, perjalanan ini memiliki suatu tingkat kesulitan dan tantangan yang tinggi. Peta topografi yang bisa kami dapatkan adalah peta lama dengan skala 1:200,000, sementara idealnya menggunakan peta 1:50,000 atau 1:25,000. Belum lagi karakter hutan tropis pulau Sumatera yang lebat dan binatang buasnya yang masih banyak. Tapi segala kendala itu tak menyurutkan tim untuk berangkat sesuai dengan rencana.

            Karena memasuki kawasan Taman Nasional, maka tim kami didampingi oleh seorang Jagawana dan seorang penduduk senior yang paling berpengalaman keluar masuk hutan di kawasan ini. Keikut sertaan mereka adalah syarat yang di wajibkan oleh pihak Taman Nasional. Bagi kami kehadiran mereka sama sekali tidak membebani, tapi justru sangat membantu. Hari demi hari kami lalui selalu dengan pengalaman yang berbeda. Baru hari pertama kami dalam hutan, malam itu kami mendengan suara serombongan gajah yang lewat di lembah yang terletak di bawah punggungan tempat kami menginap. Antara rasa cemas dan senang akan pengalaman baru bercampur dalam hati. Dan esoknya ketika melanjutkan perjalanan, kami bisa melihat sisa perjalanan rombongan gajah semalam. Jejak kaki dan sejumlah pohon yang tersibak dapat kami temui.

            Hari ke empat perjalanan kami merupakan pengalaman paling berharga dalam perjalanan ini. Tidak hanya bagi para calon anggota, tapi juga bagi kami para senior yang mendampingi. Satu kelompok calon anggota keracunan mie rebus yang mereka konsumsi sebagai makan malam. Setelah di investigasi, ternyata mereka mencampurkan jamur yang mereka dapatkan di hutan ke dalam racikan mie rebus yang mereka masak. Jamur adalah salah satu tumbuhan yang sangat berbahaya untuk di konsumsi, karena kita tidak pernah tau apakah beracun atau tidak. Walaupun jenis tersebut adalah jenis yang biasa kita lihat di konsumsi. Tempat jamur tersebut tumbuh akan sangat mempengaruhi apakah akan beracun atau tidak. Jadi ketika kita bergiat di alam, sebaiknya hindari konsumsi jamur. Beruntung akhirnya kami semua mampu melewati masa sulit tersebut setelah dua hari harus membantu satu kelompok itu yang terus menerus muntah mengeluarkan isi perutnya.

            Di tengah keputus asaan karena tidak juga kunjung menemukan titik akhir yang seharusnya sudah kami capai, siang itu rombongan kami ibarat mendapat hadiah dari Tuhan. Kami dikasih kesempatan melihat langsung raflesia arnoldi atau yang dikenal sebagai bunga bangkai, langsung di habitatnya. Di hutan tropis Sumatera. Sejenak terlupakan rasa lelah memanggul ransel puluhan kilo, naik turun pegunungan, hanya rasa senang yang ada saat itu.

            Dalam perjalanan ini pula saya akhirnya mendapatkan pembenaran bahwa pada hakikatnya binatang buas akan menghindari manusia kecuali dalam kondisi terdesak atau terpaksa. Berhari-hari dalam penjelajahan ini, tim kami selalu mendirikan camp tepat di pinggir sungai. Ini kami pilih tentunya karena sangat memudahkan kami akses air untuk kepentingan memasak dan lainnya. Hampir tiap hari kami mulai mendirikan camp sekitar jam 16,00 atau paling lambat jam 18,00. Dan biasanya kami mulai terlelap setelah pada jam 20-21,00 setelah kami melakukan rapat koordinasi untuk perjalanan esok harinya. Dan selalu, paginya kami akan mendapati pemandangan yang sama. Kami selalu menemukan jejak harimau di sekitar tenda kami. Dan tidak jauh dari lokasi tenda, pasti juga di temukan entah bekas cakaran harimau pada pohon ataupun sisa kotoran mereka. Awalnya tentu ada kekuatiran melihat itu, namun setelah beberapa hari kekuatiran itu pun perlahan sirna.

            Makanan mulai menipis, bahkan ada kelompok perjalanan yang sudah menggantungkan diri pada satu jenis makanan bahkan menambah jenis makanan dari apa yang ada di alam. Ketika akhirnya rombongan kami keluar hutan dan menemukan ladang. Tak terkira kebahagiaan yang dirasa. Berhari-hari dalam hutan sumatera yang lebat, akhirnya hari itu kami menemukan ladang masyarakat. Adanya ladang, menunjukkan bahwa dusun sudah tidak jauh lagi. Dan setelah seharian berjalan, kami pun sampai di dusun yang seharusnya menjadi target kami beberapa hari yang lalu. Masyarakat pun menyambut rombongan kami dengan senang, maklum mereka pun sudah kuatir karena kami sudah jauh melewati target waktu yang di rencanakan. Di dusun ini, rombongan BKP MAPALA UI 97 melakukan serangkaian bakti social. Ketika berinteraksi dengan masyarakat, seolah terlupakan rasa lelah dan penat yang menyelimuti tubuh kami hampir dua minggu ini. Setiap orang bahu membahu dengan masyarakat mengerjakan tugas mereka masing-masing.

            Dan akhirnya perjalanan ini pun ditutup dengan kami menyeberangi danau Ranau menuju kota Ranau dengan perahu kayu penumpang. Danau terluas nomer dua di pulau Sumatera. Sungguh suatu perjalanan yang luar biasa. Pengalaman yang sangat berharga begitu banyak saya dan teman-teman dapatkan. Disini kami belajar bersama, bagaimana menghadapi keadaan sulit, belajar menghargai kawan, belajar menghargai alam dan belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang tiada dua.

Wednesday, May 1, 2013

Bersepeda Sebagai Pilihan Hidup

Hmmm…terakhir sepertinya saya bersepeda ketika masih di bangku SMA. Kurang lebih tahun 92 saat saya masih kelas dua di SMAN 68 Jakarta. Ya itulah terakhir saya mengayuh sepeda. Itupun tidak menjadi moda transportasi, hanya untuk bisa jalan-jalan dengan teman lain.Tak sangka 14 tahun kemudian tepatnya di tahun 2006, saya kembali mengayuh sepeda. Bahkan menjadikan sepeda sebagai moda transportasi utama bagi kehidupan sehari-hari menuju tempat kerja.

            Semua berawal dari kekesalan akan semakin parahnya kemacetan di Jakarta pada saat itu. Hampir setiap berkumpul dengan teman-teman, masalah kemacetan Jakarta menjadi salah satu topic hangat yang kami bahas. Sampai akhirnya seorang teman, Arief Ridwan yang akrab di panggil Tegar, mencetuskan untuk memulai bersepeda menuju kantor. Tegar sendiri sudah mulai menggunakan sepeda sebagai moda transportasi pada saat itu. Sejuta pertanyaan akan factor safety berkecamuk dalam benak dan hati. Rasanya seperti menyerahkan nyawa ketika bersepeda membelah rimba lalu lintas Jakarta. Tapi akhirnya setelah Tegar terus meyakinkan, tepatnya bulan Juni 2006, saya memulai menggunakan sepeda yang pada saat itu saya beli seharga 2,8 juta. Rasanya seperti sudah mahal sekali bagi saya saat itu, mengeluarkan uang hampir 3 juta hanya untuk sebuah sepeda.

            Namun berjalan dengan waktu, saya jatuh cinta dengan moda transportasi ini. Begitu nikmat rasanya membelah kemacetan Jakarta, sementara yang lain masih terjebak kemacetan di dalam mobil, bis ataupun motor. Waktu yang selama ini terbuang di jalanan, bisa kembali saya nikmati. Waktu istirahat ataupun hanya sekedar bersosialisasi dengan teman bisa saya nikmati. Dan mengeluarkan uang untuk sepeda hingga puluhan juta pun sudah tidak lagi terpikir oleh saya. Sepeda pun berubah menjadi kendaraan sehari-hari dan sekaligus saya gunakan untuk menjelajah medan offroad di akhir pekan. Sepeda yang awalnya satu buah untuk segala aktifitas, terus tanpa terasa bertambah hingga lima buah, di sesuaikan dengan kebutuhannya. Benar-benar sepeda sudah merasuki hampir seluruh sendi kehidupan saya saat itu bahkan hingga kini.

            Kecintaan saya terhadap sepeda juga terus berevolusi. Berawal hanya sebagai kendaraan ke kantor, berkembang juga digunakan untuk offroad mulai dari cross country, all mountain hingga terakhir down hill pun saya lakukan. Sampai akhirnya saya tiba di titik menemukan suatu sensasi baru dalam bersepeda, Touring. Touring atau bersepeda jarak jauh, membawa saya ke suatu ekstasi berbeda dengan sebelumnya. Kenikmatan menikmati suasana sepanjang perjalanan, mulai dari alam hingga berinteraksi dengan masyarakat setempat membuat saya mulai meninggalkan offroad dan beralih ke aktifitas touring ini. Touring perdana saya, dari Jakarta menuju Bandung. Sangat melelahkan, rasanya seperti kapok selama dalam perjalanan. Tapi setelah itu, ternyata kenikmatannya justru terus memanggil saya untuk mengulangi perjalanan jauh, bahkan berpikir untuk semakin jauh dan semakin jauh lagi. Sebuah mimpi pun masih terngiang hingga kini dalam benak. Suatu hari nanti saya bermimpi bisa menjelajahi Negara-negara Asia Tenggara dan Eropa dengan menggunakan sepeda kesayangan saya. Amiiiiinnnnn…..mudah-mudahan mimpi ini bisa terwujud, seperti halnya mimpi saya untuk mencapai puncak Carstensz di Papua, yang akhirnya mampu saya wujudkan.

Saturday, April 27, 2013

Pesona Gunung Gede-Pangrango, Mutiara di Bumi Cianjur


Dua kali sudah usaha saya untuk mendaki ke gunung Kinabalu di Malaysia batal Karena masalah permit pendakian yang gagal didapat karena terbatasnya jumlah pendakian di sana. Tak terbayang begitu banyaknya orang yang ingin mendaki kesana, bahkan banyak diantaranya adalah turis-turis asing. Banyak sudah foto-foto dan literature yang say abaca tentang gunung Kinabalu dari teman-teman yang sudah melakukan pendakian kesana. Kesimpulan saya adalah, kita di Indonesia memiliki banyak gunung yang jauh lebih indah dari gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia. Salah satu gunung indah yang kita miliki adalah sepasang gunung “kembar”, gunung Gede-Pangrango di cianjur, Jawa Barat.

            Tidak hanya indah dari kondisi alamnya, tapi gunung Gede-Pangrango juga kaya akan potensi alam, sejarah hingga mitos. Sayang sekali kekayaan tiada dua yang dimiliki belum bisa dimaksimalkan hingga kini. Banyak fasilitas yang belum mendapat perhatian seperti halnya di taman nasional gunung Kinabalu. Ini mungkin yang menyebabkan gunung Gede-Pangrango dan gunung lainnya di Indonesia belum mampu di “jual” seperti halnya Kinabalu.

            Mari kita lupakan Kinabalu dan mulai bicara tentang Gede-Pangrango. Gunung Gede adalah salah satu gunung berapi aktif yang terletak di Cianjur, Jawa Barat. Gunung Gede bagaikan gunung kembar dengan gunung Pangrango yang bersebelahan dengannya. Kedua gunung ini memiliki kekayaan flora fauna yang luar biasa hingga kini. Statusnya sebagai taman nasional menjadikan gunung Gede-Pangrango bagaikan tempat yang nyaman bagi beberapa flora dan fauna yang dilindungi. Tersebut diantaranya Owa Jawa, Macan Kumbang, Elang Jawa menjadi penghuni di wilayah taman nasional ini. Selain itu wilayah ini juga menjadi salah satu tempat singgah bagi banyak jenis burung. Sehingga banyak pula para peneliti dan pengamat burung yang memilih Taman Nasional Gede-Pangrango sebagai laboratorium alam mereka.

            Ada kaiitannya dengan laboratorium alam, sesungguhnya wilayah gunung Gede-Pangrango sudah sejak lama menjadi laboratorium alam penelitian para ahli. Tepatnya sejak masa penjajahan Belanda. Salah satu bukti yang bisa di lihat hingga kini adalah dengan adanya Kebun Raya Cibodas di kaki gunung Gede-Pangrango. Bahkan konon kabarnya di sekitar pos pendakian Kandang Badak, masih terdapat sisa reruntuhan bangunan laboratorium penelitian biologi Belanda. Jika hal ini benar, tentunya betapa besar potensi sejarah yang dimiliki taman nasional ini.

            Masih berkaitan dengan sejarah di masa penjajahan Belanda, dalam beberapa literature yang ditulis oleh para petualang Belanda, menyatakan bahwa ternyata gunung Gede-Pangrango juga merupakan salah satu tempat tinggal terakhir dari badak Jawa. Bahkan dalam bukunya, Junghuhn menulis, dalam pendakiannya dia bertemu dengan sekumpulan badak Jawa yang sedang minum di sumber air, tepatnya yang saat ini kita kenal dengan pos pendakian Kandang Badak. Nama pos pendakian ini pun di ambil untuk mengenang kejadian yang di alami oleh Junghuhn. Sayangnya kini tak ada lagi badak Jawa yang masih bisa kita temukan di taman nasional ini.

            Masih bicara tentang potensi sejarah gunung ini, masih teringat dalam benak saya cerita dari almarhum bapak Ook, yang rumahnya sering saya dan kawan-kawan tumpangi sebelum mendaki ke gunung Gede-Pangrango. Dia pernah bercerita bahwa gunung Gede-Pangrango juga merupakan basis benteng terakhir dari para tentara pemberontak DI/TII. Di masanya, para tentara pemberontak, di malam hari sering turun ke perumahan masyarakat untuk meminta makanan, terutama kediaman bapak Ook yang pada masa itu adalah rumah terdekat dari batas hutan gunung Gede-Pangrango. Menurut cerita dari para senior yang sudah mendaki disana sejak tahun 60-an, juga tidak jarang dalam pendakiannya mereka menemukan sisa-sisa camp dan kotak-kotak peluru yang di duga merupakan sisa peninggalan para tentara pemberontak DI/TII.

            Selain dari potensi alam dan sejarah, Taman Nasional Gede-Pangrango juga menyimpan kisah-kisah mithos dari kepercayaan masyarakat sekitar. Setidaknya ada dua mithos yang kuat melekat di gunung Gede-Pangrango yang saat ini bisa saya dapatkan. Mithos pertama ada di wilayah air terjun Cibereum di jalur pendakian Cibodas. Di tengah derasnya air yang jatuh, ada sebongkah batu yang sekilas mirip dengan orang besar berjubah. Penduduk sekitar percaya bahwa batu tersebut adalah perwujudan dari seorang pertapa yang begitu khusuk dalam pertapaannya hingga akhirnya membatu.

            Cerita mithos lainnya ada di alun-alun Suryakencana. Alun-alun Suryakencana adalah savanna luas dekat kubah puncak gunung Gede yang di penuhi oleh pohon edelweiss. Nama Suryakencana diambil dari mithos tentang seorang pangeran kerajaan Padjajaran yang melarikan diri bersama pasukannya ke gunung Gede, ketika kerajaan Padjajaran dihancurkan. Dan dalam pelariannya tersebut sang pangeran berikut pasukannya di percaya masyarakat muksa atau naik ke nirwana. Hingga kini di saat-saat tertentu ada beberapa orang yang pernah bersaksi mendengar suara derap pasukan berkuda dan suara ringkikan kuda di area alun-alun Suryakencana. Ada versi cerita lain yang mengatakan pangeran Suryakencana adalah anak keturunan raja Padjajaran dari pernikannya dengan seorang jin.

            Tentunya mithos-mithos tersebut sulit untuk bisa dipercaya dengan logika. Di luar kita percaya atau tidak, mithos-mithos yang ada di gunung Gede-Pangrango justru menambah daya tarik dari gunung indah ini. Ya Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, hingga saat ini masih merupakan gemilang mutiara yang belum maksimal terasah. Kepedulian pemerintah baik daerah maupun pusat, juga kepedulian para pendaki dalam menjaga kebersihan dan kelestarian di kawasan ini, tentunya sangat diharapkan untuk bisa membuat kawasan ini menjadi kawasan unggulan. Tidak hanya sebatas tingkat daerah, tapi bisa menyaingi gunung Kinabalu di kawasan Asia Tenggara. Ini baru satu contoh kawasan unggulan yang belum terasah. Sementara begitu banyak, bahkan mungkin ribuan lokasi yang bisa menjadi unggulan wisata Indonesia yang hingga kini bagai terabaikan.

Monday, April 15, 2013

Sorowako, Potensi Alam Celebes


 

           Sorowako, pertama kali mendengar nama ini adalah di tahun 90an. Ketika kakak saya bekerja di PT INCO yang berbasis di Sorowako. Kesan pertama dari nama itu adalah tempat yang terpencil dan serba terbatas. Apalagi ketika dengar kalau keponakan-keponakan saya berenang di danau. Hati ini makin miris membayangkan kehidupan kakak saya dan keluarga yang serba terbatas di daerah terpencil. Tapi semua bayangan itu sirna seketika, ketika di tahun 2006 saya mendapat kesempatan untuk bekerja disana. Jatuh Cinta pada pandangan pertama, itulah kata yang tepat mewakili perasaan saya saat itu.

            Setelah satu jam penerbangan dari Makasar dengan menggunakan pesawat perintis milik Pelita Air Service, sampailah saya di bandara mungil kota Sorowako. Kota di tengah pegunungan Verbeck, Nuha, Sulawesi Selatan. Kesan yang pertama saya rasakan dalam perjalanan dari bandara, kota ini adalah kota kecil yang sangat teratur dan tertib lalu lintasnya. Mobil perusahaan yang menjemput saya, bahkan tidak mau jalan sebelum para penumpangnya semua menggunakan seat belt. Mobil melaju perlahan sesuai anjuran rambu lalu lintas. Suatu situasi lalu lintas yang belum pernah saya temukan di Jakarta.

            Memasuki kompleks perumahan karyawan, seperti memasuki surga dunia yang selama ini saya impikan. Rumah-rumah panggung berbahan kayu di kelilingi oleh pohon-pohon besar membuat suasana yang memang berudara sejuk pegunungan, semakin sejuk. Tak hanya sejuk di mata, tapi juga sejuk di hati tentunya. Bentuk rumah panggung tidak diadopsi dari bentuk rumah panggung tradisional Indonesia, tetapi merupakan adopsi dari bentuk rumah di Canada, tempat asal perusahaan INCO. Sayang, padahal budaya arsitektur tradisional Indonesia juga banyak mengenal bentukan rumah panggung yang tentunya sesuai dengan kondisi alam sekitarnya.

            Suasana kerja yang terbagi menjadi tiga shift dalam seharinya, secara tidak langsung membuat saya lebih disiplin waktu. Terutama dalam membagi waktu untuk makan, istirahat dan olah raga. Untuk fasilitas olah raga, kota ini tidak ada kurangnya. Mau jenis olah raga apapun, hampir semua bisa kita lakukan. Fitness Center dengan peralatan yang sangat baik, bisa diakses kapan pun. Bersepeda gunung ataupun berlari lintas alam, Sorowako juga surganya. Apalagi yang mencintai olah raga air. Berenang, kayaking, diving, windsurfing, jet ski ataupun sekedar memancing, bisa dilakukan di danau Matano yang sangat jernih airnya.

            Danau Matano adalah salah satu dari tiga danau yang ada di daerah Sorowako. Danau lainnya bernama danau Mahalona dan danau Towuti. Danau Matano adalah danau yang terkecil diantara dua danau lainnya. Tapi jangan salah, Matano merupakan danau nomer tujuh terdalam di dunia dan terdalam di Asia Tenggara. Dan kabarnya danau Matano juga merupakan salah satu danau purba yang terletak di Indonesia. Bagi orang yang menyukai olah raga selam, menyelam di danau Matano tentunya akan memiliki sensasi tersendiri. Danau Matano memiliki jarak pandang yang baik, ini dikarenakan airnya yang sangat jernih. Begitu jernihnya hingga jika kita masih berada tidak jauh dari tepian, kita bisa melihat dasar danau. Di danau ini pula kabarnya masih di temukan, tumbuhan air dan binatang air yang endemic atau hanya ada di danau Matano. Belakangan ini, para penyelam juga menemukan banyak peninggalan bersejarah masa lalu di dasar danau Matano. Penemuan itu berupa antara lain, pecahan gerabah dan lain-lain.

            Bicara tentang sejarah daerah ini, ternyata pada masanya di tepian danau Matano terdapat sebuah kerajaan yang konon tertua di Sulawesi. Lebih tua dari kerajaan Gowa. Dan kabarnya pula, pada masa itu terjalin hubungan yang baik antara kerajaan Matano dan kerajaan Majapahit. Diduga kerajaan Matano lah yang mensuplai senjata untuk keperluan kerajaan Majapahit. Hal itu dikaitkan dengan catatan dalan kitab Negarakertagama yang menyiratkan hal tersebut. Bahkan ada jenis pamor pada keris Jawa, yang menggunakan namanya. Jika dilihat dari masa sekarang, tentunya bukanlah tidak mungkin. Mengingat sampai saat ini pun daerah Sorowako terkenal sebagai penghasil nikel yang terbaik dan terbesar di dunia. Beberapa kali penelitian arkeologis pun dilakukan oleh para ahli dari UNHAS. Sayangnya, menurut sumber di Sorowako, penelitian-penelitian yang dibuat belumlah tuntas hingga kini karena terhalang masalah biaya. Mudah-mudahan suatu hari nanti semua misteri arkeologis Sorowako dengan Matanonya bisa terungkap.

            Tidak jauhnya jarak Sorowako dengan laut, membuat kita tidak sulit menemukan makanan laut segar di kota ini. Banyak restoran dan tempat makan yang menyediakan makanan laut. Salah satu makanan khas Sorowako, Paco’ dan Kapurung juga menggunakan ikan sebagai bahan bakunya. Bagi yang kurang menyukai makanan laut, tidak perlu khawatir. Karena banyak tempat makan, terutama di hotel-hoter seputaran Sorowako menyediakan berbagai jenis makanan, baik local ataupun internasional. Tapi sebaiknya jangan terlalu berharap banyak tentang rasa makanan, selain makanan laut. Tidak bisa dibilang tidak enak, tapi juga tidak bisa dibandingkan dengan makanan serupa yang kita jumpai di Jakarta misalnya.

            Yang sedikit sulit di Sorowako mungkin adalah penginapan yang layak dan memiliki harga yang sesuai. Penginapan bisa dengan mudah kita jumpai di Sorowako. Tapi harga yang harus dibayar seringkali membuat kita mengernyitkan dahi jika kita bandingkan dengan apa yang kita dapatkan. Penginapan di Sorowako terbiasa mendapatkan tamu dari para kontraktor ataupun tamu perusahaan PT INCO. Sehingga mereka menerapkan standard harga yang cukup tinggi. Berbeda dengan daerah-daerah wisata lain yang tersebar di Indonesia.

            Keindahan alam luar biasa dan keramahan masyarakatnya, membuat saya langsung jatuh cinta pada daerah ini. Sekaligus membuat saya berat ketika harus meninggalkan Sorowako untuk kembali ke Jakarta. Sorowako adalah surga, yang jika dapat dikelola dengan benar akan menjadi sumber kehidupan yang tidak habis bagi masyarakatnya. Tidak hanya hasil nikelnya yang sangat layak jual, tapi keindahan alam dan potensi sejarah Sorowako, tentunya sangat masih bisa di olah sebagai sumber pendapatan alternative bagi masyarakat Sorowako. Yang perlu diingat, material tambang pasti lah ada habisnya. Suatu hari nanti nikel akan habis dan INCO yang sekarang berubah nama menjadi PT VALE akan meninggalkan Sorowako. Tapi potensi alam dan sejarah yang dimiliki Sorowako tidak akan ada habisnya. Apalagi jika mulai dari sekarang masyarakat dan pemerintah daerah bisa memulai usaha untuk menyelamatkan asset tersebut. Sorowako mungkin kini jauh dari mata saya, tapi Sorowako akan selalu ada dalam hati. Sorowako adalah surga yang terjatuh di bumi Celebes.

Sawarna, Surga Tersembunyi yang Mulai Tergerus Jaman



            Hingga beberapa tahun lalu, mungkin tidak banyak orang yang tahu nama desa Sawarna. Mungkin hanya sebatas mendengan nama iya, tapi hanya segelintir orang saja yang pernah mengunjungi tempat itu. Keindahannya, membuat desa Sawarna mendapat julukan “Surga yang Tersembunyi di Selatan Jawa”. Tapi sangat berbeda dengan kondisi dua hingga satu tahun terakhir. Di saat liburan terutama, desa Sawarna sudah layaknya tempat-tempat hiburan pada umumnya. Ramai bagaikan pasar, padat akan manusia dan kendaraan bermotor. Penginapan-penginapan di sekitar sana pun penuh oleh pengunjung. Jangan lagi membayangkan tempat sunyi nan damai di tepian laut selatan Jawa. Sudah jauh panggang dari api.

            Desa Sawarna, merupakan sebuah desa yang terletak di pantai selatan Jawa. Secara administrative desa ini berada di wilayah provinsi Banten. Untuk mencapainya, dapat di akses melalui jalur Sukabumi ataupun Pandeglang. Desa Sawarna terkenal dengan pantai pasir putihnya yang memiliki garis pantai hingga 65 km, dan juga memiliki ombak yang sangat bagus untuk kegiatan surfing. Sebenarnya selain dari keindahan alamnya yang sangat menawan, Sawarna menyimpan sejuta pesona lainnya. Tidak kurang dari latar belakang sejarah dan budaya yang dimiliki Sawarna, layak untuk disimak.

            Daerah ini sangat kental sebenarnya dengan bagian dari jejak sejarah penjajahan Belanda dan Jepang pada masanya. Sangat menarik jika di perhatikan, desa Sawarna yang terletak di wilayah Banten, ternyata memiliki budaya Priangan yang lebih kental. Jika di tarik ke belakang, ternyata ini ada kaitannya dengan kehadiran perkebunan dan pertambangan batu bara tradisional milik Belanda di daerah Sawarna. Menurut salah seorang tokoh masyarakat Sawarna, Belanda yang saat itu membuka perkebunan kelapa, membawa para pekerja dari daerah Sukabumi dan Bandung untuk mengerjakan perkebunan tersebut. Daerah yang masih kosong tanpa penduduk itupun, akhirnya menjadi suatu desa baru yang kemudian dinamakan Sawarna. Ada satu bukti sejarah lain lagi yang sampai sekarang masih tanda tanya. Ada sebuah makam bangsa Belanda, tidak jauh dari pinggir pantai. Tidak banyak wisatawan yang mengetahui keberadaan kuburan ini. Pada nisannya tertulis nama Van Gogh. Banyak cerita yang simpang siur tentang siapakah Van Gogh ini. Namun paling tidak ada dua cerita yang cukup kuat di masyarakat. Cerita pertama adalah, Van Gogh yang nisannya ada di Sawarna ini adalah masih ada hubungan darah dengan pelukis Belanda terkenal Van Gogh. Yang pada saat itu sedang melakukan perjalanan dengan kapal laut. Tapi di perjalanan beliau terserang penyakit hingga meninggal ketika kapal sedang berada di sekitar Sawarna. Hingga akhirnya dimakamkanlah dia di pantai Sawarna. Cerita lain lagi, VanGogh ini adalah kepala perkebunan kelapa Belanda pada masanya, yang akhirnya meninggal di tanah Sawarna. Tentunya hal itu semua masih harus dikaji lagi kebenarannya.

            Memasuki masa penjajahan Jepang, daerah ini merupakan titik konsentrasi Romusha. Banyak korban yang jatuh pada masa ini. Hal tersebut dapat kita lihat dari tugu Romusha yang dapat kita jumpai tidak jauh dari Sawarna. Kisah pedih kehidupan masyarakat Sawarna pada masa penjajahan Belanda, bisa kita lihat dalam film lama berjudul “Saijah dan Adinda” yang diangkat dari buku tulisan tokoh nasional Max Havelaar.
            Pada masa kemerdekaan, pemerintah mengirimkan sejumlah tenaga pendidik dan tenaga kesehatan. Mereka adalah warga Priangan, yaitu Bandung dan Sukabumi. Menurut kesaksian beberapa saksi sejarah. Pada masa itu, mereka harus berjalan kaki dari Malimping, kota terakhir yang bisa dicapai dengan kendaraan. Hutan dan rawa harus mereka lalui sebelum akhirnya sampai di desa Sawarna. Lama perjalananpun beragam, mulai dari seharian penuh hingga 2 hari perjalanan untuk mencapai Sawarna. Baru belakangan, akhirnya pemerintah daerah membuka akses jalan menuju Sawarna. Bahkan kini aspal mulus akan menemani perjalanan orang yang akan mengunjungi Sawarna dengan kendaraan bermotor.

            Pada masa awal pengembangan Sawarna menjadi daearah wisata, konsep eco tourism coba di terapkan. Rumah-rumah penduduk didorong untuk menjadi penginapan bagi wisatawan. Makanan tradisional juga bisa dinikmati oleh wisatawan yang tinggal bersama dengan penduduk. Dengan konsep ini, selain masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dari kehadiran wisatawan secara langsung, bagi para wisatawan juga lebih bisa menyelami budaya masyarakat Sawarna. Dan yang utama, penduduk Sawarna menjadi tuan di rumahnya sendiri. Namun sayang, dalam perkembangannya, jenis penginapan yang dikenal dengan home stay ini, mulai tersingkirkan oleh kehadiran penginapan-penginapan jenis cottage yang mulai tumbuh. Para investor dari luar tidak ragu menanamkan modalnya untuk membuat penginapan disana. Ujungnya tentulah kembali masyarakat Sawarna sebagai tuan rumah hanya lah sebagai pekerja dan tidak lagi sebagai pemilik dari perkembangan wisata Sawarna. Kontrol pemerintah daerah yang kurang juga terlihat di pantai Sawarna. Jika sebelumnya pantai bersih dari aktifitas warung makan dan minum, sehingga kebersihan dan keindahan pantai terjaga. Kini kondisi tersebut jauh berubah. Sederetan warung menjamur di sepanjang garis pantai. Tumpukan sampai tidak jauh dari sana terlihat menumpuk. Juga ceceran-ceceran sampah terlihat di sepanjang pantai.

            Melihat potensi alam, budaya dan sejarah Sawarna yang begitu besar, apakah kita akan membiarkan Sawarna tergerus oleh kepentingan ekonomi semata? Dibutuhkan kerja keras dari semua pihak untuk menyelamatkan Sawarna sebelum kondisi menjadi semakin sulit. Masyarakat dan Pemerintah Daerah harus berani mengambil keputusan untuk menyelamatkan Sawarna. Tidak mudah silau dengan keuntungan ekonomi sesaat. Sebaiknya mulailah belajar dari lokasi-lokasi wisata lain yang sudah terlanjur rusak karena dampak industri wisata yang tidak terkendali.

            Tulisan ini saya buat, berdasarkan apa yang saya lihat dan amati selama beberapa kali melakukan kunjungan ke Sawarna. Saya mencintai desa ini dan masyarakatnya. Dan saya yakin masih banyak yang mencintai tempat ini. Masyarakat Sawarna harus kembali menjadi tuan rumah di desanya sendiri. Kami pendatang ini hanyalah tamu dan sahabat.

Wednesday, April 10, 2013

Menggapai Mimpi di Carstensz Pyramid 4884 MDPL



Siapa pendaki di Indonesia dan mungkin juga di dunia yang tidak bermimpi suatu hari di masa hidupnya bisa mencapai puncak Carstenz Pyramid di tanah Papua? Gunung dengan ketinggian 4884 mdpl, merupakan puncak tertinggi di Indonesia dan merupakan salah satu dari 7 puncak tertinggi di tujuh lempeng benua. Dan menurut seorang teman yang sudah mendaki beberapa puncak dunia, pendakian ke puncak Carstensz merupakan salah satu yang tersulit secara technical maupun dari sisi non teknisnya.

            Puncak Carstensz Pyramid terletak di kawasan pegunungan Sudirman, Papua. Yang sampai saat ini masih merupakan lokasi yang dianggap berbahaya dari gerakan bersenjata. Meskipun wilayah ini sudah dinyatakan sebagai Taman Nasional, tetapi perijinan untuk mendaki kesana tidak semudah pendakian atau perjalanan ke taman nasional lainnya di Indonesia. Paling tidak perijinan dari pihak TNI dan POLRI merupakan salah satu yang harus dikantongi oleh siapapun yang akan melakukan pendakian kesana. Selain sulitnya perijinan pendakian, kesulitan juga di perparah dengan sulitnya akses ke pegunungan ini. Hampir tidak ada penerbangan regular ke desa awal pendakian. Pintu lain menuju kawasan ini adalah melalui tambang Freeport, yang bisa dibilang juga sulit didapat ijinnya. Segala hal tersebut sudah pernah saya alami mulai dari tahun 92 hingga 99.

            Sekitar tahun 92, waktu itu saya masih duduk di bangku kelas dua SMA 68 Jakarta. Bersama beberapa rekan yang kebetulan memiliki mimpi untuk bisa mendaki ke Carstensz Pyramid, kami mencoba mengurus perijinan untuk melakukan pendakian, namun gagal. Di tahun 99, saat itu saya sudah semester akhir kuliah di sastra UI, bersama dengan teman-teman satu angkatan di Mapala UI kembali mencoba untuk membuat pendakian ke Carstensz Pyramid dan kembali gagal. Di tahun 99, perijinan dari semua pihak berwenang sudah kami kantongi, namun kami harus berbesar hati untuk gagal berangkat karena tidak mencukupinya biaya perjalanan yang mencapai 20jt per orang diluar biaya peralatan. Usaha untuk mendapat ijin melintas dari Freeportpun sudah kami coba, namun juga tidak berhasil di dapat. Sekedar informasi, bila kita berhasil mendapatkan ijin melintas dari Freeport, kita bisa menghemat biaya lebih dari setengah total biaya pendakian normal. Yah sampai saat itu, saya dengan semua anggota tim pendakian harus berbesar hati untuk memendam kembali mimpi bisa menjejakkan kaki di titik tertinggi di Indonesia.

            Kurang lebih tujuh tahun setelahnya, tahun 2006, tanpa saya duga ternyata mimpi saya akhirnya bisa menjadi kenyataan. Saat itu bulan Mei 2006, saat saya menjelang kepulangan ke Jakarta dari lokasi kerja saya di Sorowako yang telah habis masa kontraknya, saya mendapat kabar bahagia tersebut. Ripto Mulyono yang akrab dipanggil Mul, memberi kabar bahwa saya akan dia ajak mendampingi tim Liputan 6 SCTV mendaki Carstensz Pyramid di bulan Agustus. Antara percaya dan tidak dengan ajakan tersebut. Masih seperti mimpi mendengar tawaran itu. Mimpi bertahun-tahun yang sudah sempat saya pikir tidak akan bisa tercapai, sekarang sudah ada di depan mata. Tak kurang kata sukur saya panjatkan ke Allah saat itu.

            Ripto Mulyono adalah salah satu senior dan pelatih tim saya di Mapala UI, saat saya menyiapkan pendakian ke Carstensz di tahun 99. Dari dialah selama ini, mimpi untuk bisa suatu hari mendaki Carstensz dan puncak dunia lainnya terus terjaga di hati nurani saya dan teman-teman di Mapala UI. Ripto adalah salah satu dari sedikit pendaki gunung Indonesia yang menjajaki pendakian “Seven Summits” oleh orang Indonesia. Bahkan di tahun 96, Ripto hampir saja berhasil mencapai puncak Everest di Nepal bersama dengan tim Kopassus. Dan hingga kini, saya rasa hanya dialah yang sudah melakukan pendakian terbanyak ke Carstensz Pyramid. Saya yakin segudang pengalamannya lah yang membuat SCTV meminta dia untuk menyiapkan dan membentuk tim untuk pendakian di Agustus 2006 itu.

            Dan hari besar itupun tiba. Enam orang pendaki dari Liputan 6 SCTV dan enam orang pendaki dari beberapa pencinta alam universitas, berangkat menuju Timika. Kota awal yang akan menjadi awal pendakian kami ke pegunungan Sudirman. Pendakian yang akan kami lakukan mendapat akses melalui kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Dengan menumpang pesawat Airfast, kami berangkat pagi itu. Kurang lebih tujuh jam waktu tempuh penerbangan normal Jakarta-Timika. Penerbangan yang melelahkan. Dan ternyata itupun masih harus ditambah dua jam karena cuaca buruk, sehingga pesawat yang kami tumpangi harus transit di Nabire, sebelum akhirnya bisa mendarat di Timika. Faktor cuaca memang juga salah satu obstacle perjalanan dengan pesawat ke tanah Papua.Setelah perjalanan berjam-jam, akhirnya pesawat kami pun mendarat di Bandar udara Internasional Mozes Kilangin, Timika. Namanya adalah Bandar Udara Internasional, tapi jangan berharap melihat bandara mewah seperti layaknya Bandar udara di belahan Indonesia yang lainnya. Bandara yang sangat minimalis, bahkan gedung terminalnya mungkin tidak lebih besar dari satu gedung fakultas di UI. Tidak akan dapat kita jumpai roda berjalan tempat kita menunggu bagasi layaknya di Bandar udara lainnya. Yah semua serba minimalis, namun di balik segala keterbatasan itu, bandara ini relative bersih dan teratur. Tidak seperti Cengkareng yang kian hari kian kumuh.

Sesampainya di Timika, rombongan kami di jemput oleh perwakilan dari PT Freeport, om Ronald namanya. Orang yang kemudian saya kenal sebagai orang yang sangat ramah dan baik hati. Setelah mendapatkan safety induction sebagai safety standard memasuki kawasan Freeport, om Ronald mengajak kami menuju penginapan di kota Timika. Yah kami memang tidak langsung menuju Tembagapura, karena masih ada beberapa persiapan yang akan kami lakukan di kota ini. Yang paling utama adalah berbelanda beberapa kebutuhan makanan. Karena akan sangat sulit dan mahal jika kita membelinya di Tembagapura nanti. Penginapan yang sederhana tapi sangat baik kondisinya. Sangat nyaman bahkan. Ini adalah penginapan yang biasa digunakan oleh para tamu Freeport jika menginap di Timika. Malam itu, selepas ngobrol ngalur ngidul antara anggota tim pendakian, kami pun terlelap di kelam malam kota Timika.

Pagi itu selepas bangun tidur, saya lihat ada sebuah bis yang sangat besar di parkiran halaman hotel. Ternyata itu adalah bis yang akan mengangkut kami menuju Tembagapura hari ini. Selepas sarapan dan sedikit berbelanja kebutuhan makanan pendakian, rombongan kami pun berangkat. Hari sudah menjelang siang saat itu. Perjalanan menuju Tembagapura menyajikan pemandangan alam luar biasa. Tak jarang, bis yang kami tumpangi harus berhenti hanya karena kebutuhan rombongan mengambil gambar. Sayang rasanya jika keindahan seperti ini tidak terabadikan. Banyak pula kendaraan tambang yang berpapasan dengan bis kami. Pemandangan yang umum, khas daerah pertambangan. Yang membedakan dari lokasi tambang lain yang pernah saya sambangi, mungkin ukuran dari kendaraan-kendaraan di Freeport relative lebih besar. Perjalanan dari Timika menuju Tembagapura juga terkesan ketat dari sisi keamanannya. Bis kami di kawal oleh dua kendaraan security mulai dari gerbang masuk kawasan tambang di kota Timika tadi. Selain itu, tidak kurang dari tiga buah pos pemeriksaan keamanan harus kami lalui hingga sampai di Tembagapura.

Di Tembagapura, rombongan kami mendapatkan pinjaman sebuah “Flat” mirip apartment di area perumahan baru mereka yang nama daerahnya adalah Hidden Valley. Sesuai dengan namanya, lokasi perumahan ini memang terletak di dasar lembah yang dikelilingi oleh hutan dan tebing. Sangat indah. Belum pernah dalam hidup saya, menemukan keindahan alam seperti yang saya jumpai saat itu. Sampai di Tembagapura, tidak ada waktu istirahat bagi kami ternyata. Sejumlah agenda sudah disiapkan. Mulai dari persiapan peliputan upacara kemerdekaan, pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan peralatan pendakian, jamuan makan malam dan masih banyak lagi. Ada hal menarik ketika kami baru saja memasuki ruangan yang di pinjamkan untuk kami. Tiba-tiba saja pintu ada yang mengetuk, ketika dibuka seorang anak dengan sepiring pisang goreng berdiri di muka pintu. Ternyata anak itu mengirimkan titipan ibunya, sekaligus mengundang kami untuk makan bersama dengan keluarganya malam itu. Begitu hangat sambutan para warga disini, cukup menghangatkan hati di tengah membekunya suhu udara di Hidden Valley.

Empat hari saya dan seluruh anggota tim tinggal di Tembagapura. Segala persiapan dan peliputan yang dibutuhkan oleh tim SCTV sudah rampung kami lakukan. Sekaligus juga kami gunakan guna proses aklimatisasi tubuh dengan ketinggian. Dan pagi itu rombongan kami pun di jemput dengan bis untuk menuju High Camp. Semua peralatan kami bagi dua. Peralatan pendakian untuk empat hari pertama kami bawa dalam ransel masing-masing, sementara sisanya termasuk peralatan pemanjatan dan peralatan listrik dipisahkan untuk di drop dengan helicopter langsung di Lembah Danau-Danau, base camp pendakian kami nantinya. Cuaca cukup dingin pagi itu, dengan diiringi pula oleh gerimis hujan, kami menuju High Camp. Bis yang mengangkut kami, menurunkan rombongan di tempat keberangkatan kereta gantung. Untuk mencapai High Camp tidak bisa dengan menggunakan bis. Dari kereta gantung ini kami bisa melihat dengan jelas lokasi pertambangan Freeport. Kabut tipis sesekali menutupi pandangan. Sampai di High Camp bis lain sudah menunggu, termasuk juga satu mobil Emergency Response Group yang akan mengawal rombongan hingga Bali Dam. Berikutnya yang kami sambangi adalah Pos Ayam Hitam. Pos pemeriksaan keamanan terakhir di wilayah tambang Freeport. Pos ini dijaga oleh para prajurit TNI. Sejumlah urusan admisnistrasi harus kami lakukan disini sebelum memulai pendakian. Pos yang kecil, dingin tapi cukup bersih dan rapi. Dari Pos Ayam Hitam, rombongan kami menuju Bali Dam, titik awal pendakian kami. Ripto Mulyono sebagai ketua pendakian memutuskan kami akan menginap malam ini di kaki tebing Zebra Wall, tepat di bawah Bali Dam. Keputusan ini di buat untuk proses aklimatisasi seluruh anggota tim pendakian. Maklum saja, ketinggian saat itu sudah hampir 4000 mdpl, berbeda lebih dari 1000 mdpl dibandingkan ketinggian Tembagapura. Malam pertama di pegunungan Sudirman, saya bisa istirahat dengan baik walau semalaman diiringi suara alat berat pertambangan Freeport.

Hari ke dua pendakian, semua anggota tim dalam kondisi prima. Tidak ada masalah dengan aklimatisasi tubuh. Cuaca juga cukup cerah, walaupun sempat gerimis dan berkabut tipis. Target pendakian kami hari ini adalah Danau Biru di kaki tebing Wachter, New Zealand Pass dan Pintu Angin. Tidak lama berjalan, kami sudah sampai di tujuan. Cuaca cukup berangin di sini. Udara dingin menusuk tulang mulai saya rasakan. Di hadapan kami adalah tanjakan tajam melewati Pintu Angin unutk menuju Base Camp kami nantinya di Lembah Danau-Danau. Malam ini saya merasakan sedikit pusing di kepala. Mungkin ini adalah tanda gejala mountain sickness, proses aklimatisasi yang kurang baik di tubuh saya. Tapi bagaimanapun saya paksakan untuk bisa tidur dan istirahat maksimal malam itu. Sampai besok paginya ternyata sedikit pusing di kepala belum juga hilang. Dan ternyata saya tidak sendiri, beberpa anggota tim pendakian juga mengalamai hal serupa. Ripto pun memutuskan unutk menambah satu hari lagi untuk menginap di tepian Danau Biru ini untuk bisa memperbaiki kondisi tubuh, sekaligus juga menunggu kepastian dropping logistic dengan helicopter dari Freeport. Hari ke tiga ini cuaca kurang bersahabat. Seharian camp kami diguyur hujan walaupun tidak lebat. Angin pun sedikit kencang menghantam tenda kami. Suhu sedikit lebih dingin dari hari kemarin. Aktifitas hari ini kami isi dengan memasak dan mengobrol penuh canda, menghibur diri. Dan tentunya sejumlah gambar tidak juga luput dari kamera kami.

Hari ke empat pendakian, kami semua bangun dengan kondisi tubuh yang prima kembali. Tidak ada lagi pusing di kepala. Dan ketika kami selesai makan serta packing ransel masing-masing, helicopter pengangkut logistic kami pun lewat di atas kami menuju Lembah Danau-Danau. Cuaca cukup baik hari itu. Hampir siang saat kami memulai pendakian menuju Base Camp. Melewati tanjakan menuju Pintu Angin sangat melelahkan. Kecuraman tanjakannya memang lumayan, mungkin juga di tambah dengan faktor ketinggian yang sudah 4000 mdpl membuat kami lebih mudah lelah. Rombongan pendakian berjalan pelan saling berdekatan. Ripto sesekali berteriak memberi semangat. Hari menjelang sore ketika saya sampai di Lembah Danau-Danau. Hujan deras menyambut kedatangan tim kami di sana. Sebuah flysheet darurat kami bentangkan untuk melindungi tubuh dan beberapa peralatan yang rawan dari air hujan. Ketika hujan tidak lama kemudian mereda, kami pun mulai membangun tenda. Enam buah tenda kami dirikan, meliputi satu tenda makan, satu tenda peralatan elektronik penyiaran dan empat tenda untuk kami tidur. Udara semakin dingin malam itu, anginpun kurang bersahabat. Selepas makan malam dan membersihkan semua alat makan masing-masing. Seluruh anggota tim pendakian pun telah terlelap dalam tenda masing-masing. Malam itu sekitar jam 3,00 dini hari, Ripto membangunkan kami. Base Camp kami di terjang badai salju. Tenda makan kami sudah rata dengan tanah karena tidak kuat menahan beban salju yang menimpanya. Sejadinya lah tengah malam dingin kami harus menyelamatkan tenda dan peralatan kami dari terjangan badai salju. Hujan salju di barengi dengan angin baru mereda sekitar pulul 05,00 pagi. Berbarengan dengan mulai terbitnya matahari. Kami pelan-pelan mulai membangun kembali tenda makan kami yang rata dengan tanah. Memasak makan pagi itu pun terpaksa kami lakukan di luar.

Di hari ke lima ini, saya, Fahmi dan Epoy, di tugaskan Ripto untuk mendrop sebagian peralatan di teras besar Puncak Jaya, ini diperlukan untuk menghemat beban yang akan kami tanggung pada hari pendakian tim besar nantinya. Mengingat beban peralatan yang akan kami bawa nantinya sangat banyak. Target pendakian ini nantinya adalah pemecahan record oleh tim Liputan 6 SCTV sebagai tim peliputan pertama yang melakukan siaran langsung dari titik tertinggi. Dan kesempatan itu, saya pikir akan baik bagi proses aklimatisasi tubuh. Kami bertiga sampai kembali di camp ketika hari hampir sore. Saat kami tiba, tim SCTV sedang menyiapkan siaran langsung dari camp kami di Lembah Danau-Danau. Hari-hari di camp, sejauh ini kami lalui dengan bahagia. Walaupun ada beberapa kejadian seperti badai salju, tapi kami sangat menikmati perjalanan ini. Malamnya, di tengah tidur, saya terbangun. Kepala rasanya bagai dipukuli palu. Sakit bukan main. Ya saya kembali terkena mountain sickness dan ini lebih berat dari yang saya rasakan sebelumnya. Segala cara saya coba, tidak juga berhasil menghilangkan sakit kepala itu. Akhirnya pilihan terakhir, obat dari Ripto saya konsumsi. Dan tidak lama sakit kepala berangsur berkurang dan malam itu saya bisa tidur lagi. Alhamdulillah…

Pagi hari ke enam pendakian, Ripto mencek kondisi seluruh anggota tim. Ternyata saya tidak sendirian terkena serangan mountain sickness. Aldian, produser Liputan 6, juga terkena dan sedikit lebih parah dari saya. Novri, kameramen Liputan 6, juga merasakan hal serupa. Menanggapi hal itu akhirnya Ripto memutuskan untuk menambah hari istirahat di camp Lembah Danau-Danau. Tidak ada hal yang istimewa hari itu, selain hunting foto sekitaran camp dan peliputan yang dilakukan tim Liputan 6. Tak jauh dari camp kami, saya menemukan sebuah prasasti dari alumunium tebal, mengenang rekan-rekan Aranyacala Trisakti yang meninggal dalam usaha pendakiannya ke Carstensz Pyramid. Sejenak saya dan beberapa teman memanjatkan doa saat itu. Apapun yang terjadi, usaha mereka merupakan catatan sejarah pendakian di Indonesia.

Hari ke tujuh adalah hari awal pendakian kami menuju puncak Jaya. Target pendakian kami hari ini hanya sampai di teras besar, dimana kami telah mendrop beberapa peralatan sebelumnya. Perjalanan hari ini sedikit lebih lambat dari ketika saya mendrop barang. Mungkin jumlah beban dan banyaknya orang mempengaruhi. Sekitar jam 16,00 kami baru tiba di teras besar. Dua buah tenda pun kami dirikan. Malam yang terasa panjang. Tidur malam itu terasa sangat tidak nyaman, hanya tidur ayam saja. Tidur berdesakan di tambah beralaskan serakan batu di bawah tenda, tidak mampu membuat saya dan beberapa teman istirahat dengan baik. Belum lagi di tambah dengan angin yang dinginnya menusuk tulang di luar sana.

Jam menunjukkan pukul 5,00 pagi waktu itu. Kami mulai bersiap melakukan summit attack di hari ke delapan pendakian kami. Diiringi hujan salju, kami mulai merayapi rute pendakian puncak Jaya. Ice Axe cukup membantu saya melewati medan bersalju yang semakin tebal karena efek dari hujan salju yang belum juga berhenti. Beberapa ratus meter dari puncak, kami berhenti di sebuah medan batuan rata yang cukup luas. Di situ Aldian dan Ripto membagi tim menjadi dua. Tujuh orang termasuk saya akan terus menuju puncak, sementara sisanya akan menetap disana untuk menyiapkan siaran langsung ke Jakarta. Pendakian pun kami lanjutkan. Aldian, Radit dari Liputan 6 dan saya bergantian mengoperasikan kamera, meliput pendakian menuju puncak. Semakin mendekati puncak, hujan salju semakin deras turun menimpa kami. Lapisan saljupun semakin tebal. Setiap langkah yang saya lakukan, akan masuk sekitar setinggi dengkul ke dalam salju. Hal itu membuat langkah pendakian semakin lambat. Maklum di tim kami, relative hanya Ripto yang sudah berpengalaman mendakidi situasi seperti itu. Dan akhirnya, masih di tengah cuaca buruk, baru sekitar jam 12,00 siang kami sampai di puncak Jaya dengan ketinggian 4862 mdpl. Siaran langsung pun kami lakukan. Alhamdulillah berhasil siaran langsung ini, dan sekaligus juga untuk saya pribadi akhirnya bisa mencapai puncak salju khatulistiwa ini. Tinggal satu puncak lagi berikutnya, Carstensz Pyramid.

Perjalanan turun dari puncak tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Tubuh semakin terkuras tenaganya. Sementara hanya indomie dan coklat, makanan yang masuk ke dalam perut seharian ini. Sekitar jam 20,00 saya, Radit dan Epoy sampai di camp. Jalan sudah bagaikan zombie, pandangan sudah tidak focus, dan sandungan batu-batu sepanjang jalan cukup untuk membuat kami berkali-kali terjatuh. Beruntung cuaca cukup cerah malam itu mengiringi perjalanan kami turun. Sesampai di camp, sebelum istirahat, sambil menunggu teman lain kami sempatkan untuk memasak minuman hangat. Dan saya memaksakan diri untuk bisa memasukkan makanan ke dalam perut. Kelelahan yang amat sangat di tambah suhu dingin membuat napsu makan menghilang. Malam itu saya tidur bagai mayat. Mungkin kalo ada badai lagi malam itu, saya belum tentu dengar dan mampu membuka mata. Beruntung, benar-benar Allah memberikan bonus cuaca cerah malam itu mengiringi tidur kami.

Pagi hari di hari ke sembilan pendakian ini, selepas sarapan pagi Aldian meminta ke Ripto untuk turun ke Tembagapura. Dia merasa kondisi tubuhnya makin drop setelan pendakian puncak Jaya sehari sebelumnya. Mountain Sickness semakin menggerogoti tubuhnya. Dia cerita kalo dia sudah mengalami halusinasi pagi itu. Ripto bergerak cepat, dia minta Fahmi mengkontak ke ERG di Freeport untuk bersiap melakukan evakuasi. Sementara tim Liputan 6 juga melakukan koordinasi siapa yang akan melanjutkan peliputan pendakian Carstensz Pyramid dan siapa yang akan turun menemani Aldian. Akhirnya diputuskan Radityo Wicaksono dan Akemona untuk tetap di camp, berisap untuk peliputan berikutnya, sementara yang lainnya dari Liputan 6 akan turun mendampingi Aldian. Perpisahan pun terjadi, sedikit sedih setelah satu minggu bersama. Kini harus ada beberapa teman yang harus kembali lebih cepat. Tapi saya rasa ini adalah keputusan yang tepat dari pada memaksakan kondisi.

Tiga hari lamanya kami di Lembah Danau-Danau menanti cuaca yang bagus untuk memulai pemanjatan ke puncak Carstensz Pyramid. Dan akhirnya di hari ke 12 dini hari itu, sekitar jam 2,00 Ripto membangunkan kami. Peralatan yang sudah kami siapkan dari beberapa hari terakhir membuat persiapan yang kami lakukan tidak terlalu lama. Radit dan Akem memutuskan untuk tidak berangkat, mengingat pemanjatan ke Carstensz berbeda dengan ke puncak Jaya. Di Carstensz sangat dibutuhkan kemampuan teknis dan pengalaman pemanjatan tebing yang mumpuni. Tidak ingin menghambat pemanjatan, menjadi alas an mereka untuk tidak ikut menuju puncak. Akem menitipkan kamera ke saya, Radit pun menitipkan liputan yang dia butuhkan. Kamera saya bagi dua. Saya pegang satu kamera, Epoy juga pegang satu kamera. Berdasar pengalaman hari sebelumnya di Puncak Jaya, battere akan sangat boros di cuaca dingin ini. Saya putuskan kamera akan menyala bergantian antara saya dan Epoy. Perjalanan pun di mulai. Dari Lembah Danau-Danau, kami mendaki menuju lembah kuning yang terpisah kawasan puncak tengah. Kami sampai di kaki tebing Carstensz di lembah kuning sekitar jam 3,00 dini hari. Sinaran dari cahaya headlamp menerangi pemanjatan kami. Satu persatu kami ber enam merayapi tebing Carstensz dengan bantuan fix rope. Saya menjadi pemanjat terakhir. Jam menunjukkan hampir jam 6,00 pagi ketika sampai di teras besar. Kami istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan alam tiada dua. Cuaca cerah pagi itu. Terlihat hampir semua puncak di pegunungan Sudirman, termasuk puncak Jaya dan puncak Soemantri yang diliputi salju abadi. Tak bisa lama kami beristirahat, karena waktu terus berpacu. Summit Ridge kami susuri dengan hati-hati. Beberapa jurang dalam harus di lalui. Lumayan membuat hati ini kecut juga melihat dalamnya jurang yang harus kami lewati. Seratus meter sebelum puncak, hujan salju kembali turun. Tali yang kami gunakan juga semakin kaku dan licin. Membuat ascender yang kami gunakan tidak lagi bisa menggigit maksimal. Perlahan tapi pasti terus kami susuri tebing puncak Carstensz Pyramid. Dan akhirnya tepat jam 12,00 siang itu saya berhasil menjejakkan kai di puncak Carstensz Pyramid, 4884 mdpl. Puncak tertinggi di Indonesia dan juga Austrolasia. Air mata tanpa sadar mengalir, mimpi ini akhirnya tercapai. Ripto datang memeluk dan memberi selamat. Begitu juga Fahmi, Heru, Epoy dan Avi bergantian saling memberi selamat. Dalam hati, tak henti saya mengucap syukur atas nikmat yang diberikan Allah pada saya.

Yah hari itu saya merasakan sendiri akhirnya, bahma jangan pernah kita mnegubur mimpi. Karena suatu hari mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Dan benar adanya bahwa segala sesuatu juga berawal dari mimpi, Maka jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Bermimpi untuk mencapai suatu target setinggi langit jika perlu. Mari kawan kita lanjutkan mimpi kita.

Monday, April 8, 2013

Bike Touring Pertama, Jakarta - Sawarna









          Tidak pernah terbayang dalam benak saya selama ini untuk melakukan perjalanan bersepeda dengan jarak yang jauh. Apalagi sampai lebih dari satu hari alias harus pakai menginap di perjalanan. Perjalanan terjauh saya dengan bersepeda selama ini hanyalah Jakarta-Bogor PP dengan jarak kurang dari 200 km, itupun terkadang pulangnya saya menumpang KRL dari stasiun Bogor. Tapi entah apa yang ada di benak sayaa saat itu, ketika mengiyakan ajakan Asep untuk ikut touring ke Sawarna. Yang jaraknya dari Jakarta kurang lebih 250 km. Apalagi Asep berencana untuk melakukannya pulang pergi.

            Dan hari itu pun tiba. Sesuai dengan janjian sebelumnya, meeting point yang disepakati adalah di rumah Iye di daerah Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ternyata cukup banyak yang ikut dalam perjalanan ini. Di rumah Iye sudah ada Bayu, Devin dan pak Mito. Dari rumah Iye kita menuju rumah Odel di Tangerang dengan melalui BSD. Di tengah perjalanan Asep pun bergabung. Perjalanan menuju Tangerang tentunya tidak ada yang menarik selain kepadatan kendaraan dan jalanan yang berdebu juga rusak disana sini. Setelah menjemput Odel di rumahnya, perjalanan pun kami lanjutkan menuju Rangkas. Tidak jauh dari rumah Odel, kami sepakat untuk makan pagi yang terlambat dulu di sebuah warung Warteg yang kami lalui.

            Tidak lama kami makan, sekedar menurunkan makanan, perjalananpun di lanjutkan. Jalanan rusak cukup menyiksa dan menghambat perjalanan karena kecepatan tidak bisa dipacu maksimal. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi terasa sangat lama. Baru sekitar jam 15,00 rombongan kami sampai di kota Rangkas. Perut terasa sudah kosong lagi, terkuras energi di jalanan rusak, berdebu dan panas matahari yang menyengat. Sebuah warung yang lumayan lengkap kami temui. Lumayan cukup banyak pilihan menu untuk mengisi perut kami yang kosong ini. Baru saja selesai makan dan bersiap melanjutkan perjalanan, hujan deras mengguyur kota Rangkas. Dan ternyata hujannya cukup awet. Dua jam sudah kami menunggu tidak ada tanda hujan berkurang. Akhirnya kami putuskan untuk menginap di Rangkas malam itu. Karena cukup berbahaya jika kita kemalaman di daerah Gunung Kencana nanti. Mencari-cari penginapan, belum juga dapat yang sesuai. Tiba-tiba ibu warung menawari kami untuk meninap di rumahnya. Wah Alhamdulillah kalo begitu. Tidak masalah untuk kami walaupun hanya beralaskan matras, yang penting bisa beristirahat mala mini untuk melanjutkan kembali perjalanan besok yang masih panjang menuju Sawarna. Melahap tanjakan Gunung Kencana yang kabarnya aduhai.

            Sekitar jam 9 pagi esok harinya, selepas sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Asep yang sudah berkali-kali ke Sawarna beada di depan sebagai penunjuk jalan. Jalanan relative jauh lebih baik kondisinya dibandingkan jalan yang kemarin kita lalui. Karakter jalannya mulai sedikit banyak menanjak. Awalnya saya piker wajar karena seperti yang saya tahu dari Asep, kita akan menuju kawasan gunung Kencana. Tapi setelah beberapa jam berjalan, Asep baru sadar kalo jalan yang kami lalui ternyata berbeda dengan jalan yang biasa dia lalui. Wah bagai mendapat jackpot kagetnya, kami membuang waktu berjam-jam untuk rute yang ternyata salah. Untuk kembali lagi ke kota Rangkas rasanya tidak mungkin. Akhirnya Asep memutuskan untuk memotong jalan seperti arahan penduduk. Berjam-jam kami melalui jalan “potong” yang ternyata merupakan jalanan yang belum selesai pembangunannya. Masih berbatu dan bercampur tanah. Perjalanan pun saya rasakan semakin berat. Apalagi untuk saya yang baru kali ini melakukan touring dengan sepeda.

            Keuntungan dari “nyasar” ini, kami menemukan pemandangan yang cukup indah. Tidak seperti jalur normal yang biasa saja, khas daerah pinggiran Banten. Berjam-jam kami lalui jalanan setengah jadi ini sebelum akhirnya kami menemukan kembali jalan yang sebenarnya menuju Gunung Kencana. Perjalanan menanjak yang sebenarnya pun saya lalui. Jalanan aspal cukup halus membelah perkebunan sawit Gunung Kencana. Cuaca sangat panas. Perbaikan jalan sedang berjalan di beberapa titik yang kami lalui. Makan siang hari ini lumayan membangkitkan selera. Tanpa sengaja kami menemukan warung kecil yang menjual satay maranggi. Lumayan mengenyangkan, mengisi perut yang terkuras menghadapi tanjakan Gunung Kencana, yang seperti Asep bilang memang aduhai.

            Rombongan sudah terpecah, tidak lagi berjalan berdekatan seperti sebelumnya. Kemampuan fisik dan pengalaman berjalan panjang terlihat sangat berpengaruh. Saya sudah tidak peduli lagi dengan siapa yang ada dimana, yang ada dipikiran saya cuma bagaimana bisa mencapai Malimping, kota kecil sebelum masuk daerah Sawarna. Sial memang tidak bisa di duga. Tas Pannier yang baru saja saya beli di Rodalink, jebol sangkutannya ke rack. Baut pengikatnya hilang pula. Tidak lama, tiba-tiba sebuah angkot berhenti. Di dalamnya ada Iye dan Bayu yang menawari saya ikut naik angkot dengan mereka menuju Malimping. Tak berpikir dua kali, saya iyakan ajakan itu. Pikiran terlanjur kesal dengan pannier bag yang jebol. Angkot yang kami tumpangi sampai di Malimping pukul 16,00. Sambil menunggu teman-teman yang lain, saya langsung berusaha memperbaiki pannier bag. Untungnya, saya punya cadangan baut yang saya simpan di tools box. Tidak lama pak Mito, Devin dan Odel datang dan kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Sawarna.

            Hari semakin gelap dan hujan gerimis sudah mulai mengguyur membasahi perjalanan kami. Kami memutuskan untuk mampir ke sebuah warung makan di pinggir jalan sambil menunggu Asep. Beragam pesanan untuk mengisi perut yang kosong dilayangkan ke pemilik warung. Sambil makan, candaan pun mengalir dari mulut teman-teman. Apalagi setelah Asep tidak lama kemudian sampai juga di warung itu. Hal lucu terjadi ketika kita membayar makan. Apapun makanannya, mulai dari Indomie sampai nasi Ayam, harganya sama. Tentu saja hal itu membuat dongkol kami yang hanya memesan indomie. Bukan marah yang keluar dari mulut kami, tapi malah tawa yang berderai.

            Asep sebagai yang sudah tahu jalur berpesan kepada kami tentang perjalanan menuju Sawarna. Perjalanan malam tentunya berbeda dengan perjalanan siang. Kami diminta untuk saling menjaga jarak tidak lagi berjauhan seperti di Gunung Kencana. Jalur yang akan kami lalui berikutnya akan didominasi dengan jalan aspal halus di tengah hutan. Cuaca setelah hujan menimbulkan kabut tipis yang menghalangi pandangan di tengah hutan itu. Kayuhan pelan tapi pasti terus kami lakukan. Perjalanan naik turun, rolling menuju Sawarna. Cahaya lampu sepeda kami tak mampu menembus kabut yang terus ada tak mau menyingkap. Tibalah kami akhirnya di sebuah warung yang sudah tutup. Desiran angina laut akhirnya kami rasakan. Di kejauhan di bawah sana terlihat samar lampu-lampu dari rumah pedesaan. Yah akhirnya kami sampai di desa Sawarna. Hampir jam 24,00 kami tiba di rumah kang Hendi. Tempat kami menumpang menginap selkama di desa Sawarna. Dua buah saung telah disiapkan bagi kami untuk menginap. Rasa lelah membuat kami tak banyak ngobrol malam itu. Dalam sekejap, semua sudah terbuai dalam mimpi masing-masing.

            Pagi harinya, akhirnya saya baru bisa menikmati keindahan Sawarna seperti yang selama ini saya dengar dari Asep. Pantai yang bersih dengan garis pantainya yang panjang, tebing Tanjung Layar yang gagah menantang, dan masih banyak tempat lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu keindahannya. Belum lagi makanan lautnya yang berlimpah dan murah tentunya. Semua itu membuat kami betah belum mau melanjutkan perjalanan yang seharusnya dilanjutkan menuju Sukabumi hari itu. Kami sepakat untuk melupakan ke Sukabumi, kami extend menginap di Sawarna. Belum puas mata ini rasanya menikmati satu lagi keindahan lukisan Allah di muka bumi.