Jika
ditanya apa perjalanan saya yang paling berkesan, sulit untuk menjawabnya. Semua tempat yang pernah
saya kunjungi selalu memiliki kesan yang mendalam. Pengalaman yang didapat
sangat unik di tiap masing-masing tempat. Termasuk salah satu diantaranya
adalah perjalanan saya menembus hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan,
yang terletak di perbatasan antara Lampung dengan Sumatera Selatan.
Perjalanan
ini saya lakukan bersama tim BKP MAPALA UI 97. Perjalanan ini merupakan salah
satu bagian dari pendidikan para calon anggota MAPALA UI. Saat itu kami membuka
jalan dari perbatasan Lampung dengan Bengkulu, di tepi pantai barat Sumater.
Target tim akan menembus hingga Danau Ranau di Sumatera Selatan. Dari awal
perencanaan, perjalanan ini memiliki suatu tingkat kesulitan dan tantangan yang
tinggi. Peta topografi yang bisa kami dapatkan adalah peta lama dengan skala 1:200,000,
sementara idealnya menggunakan peta 1:50,000 atau 1:25,000. Belum lagi karakter
hutan tropis pulau Sumatera yang lebat dan binatang buasnya yang masih banyak.
Tapi segala kendala itu tak menyurutkan tim untuk berangkat sesuai dengan
rencana.
Karena
memasuki kawasan Taman Nasional, maka tim kami didampingi oleh seorang Jagawana
dan seorang penduduk senior yang paling berpengalaman keluar masuk hutan di
kawasan ini. Keikut sertaan mereka adalah syarat yang di wajibkan oleh pihak
Taman Nasional. Bagi kami kehadiran mereka sama sekali tidak membebani, tapi
justru sangat membantu. Hari demi hari kami lalui selalu dengan pengalaman yang
berbeda. Baru hari pertama kami dalam hutan, malam itu kami mendengan suara
serombongan gajah yang lewat di lembah yang terletak di bawah punggungan tempat
kami menginap. Antara rasa cemas dan senang akan pengalaman baru bercampur
dalam hati. Dan esoknya ketika melanjutkan perjalanan, kami bisa melihat sisa
perjalanan rombongan gajah semalam. Jejak kaki dan sejumlah pohon yang tersibak
dapat kami temui.
Hari
ke empat perjalanan kami merupakan pengalaman paling berharga dalam perjalanan
ini. Tidak hanya bagi para calon anggota, tapi juga bagi kami para senior yang
mendampingi. Satu kelompok calon anggota keracunan mie rebus yang mereka
konsumsi sebagai makan malam. Setelah di investigasi, ternyata mereka
mencampurkan jamur yang mereka dapatkan di hutan ke dalam racikan mie rebus
yang mereka masak. Jamur adalah salah satu tumbuhan yang sangat berbahaya untuk
di konsumsi, karena kita tidak pernah tau apakah beracun atau tidak. Walaupun
jenis tersebut adalah jenis yang biasa kita lihat di konsumsi. Tempat jamur
tersebut tumbuh akan sangat mempengaruhi apakah akan beracun atau tidak. Jadi
ketika kita bergiat di alam, sebaiknya hindari konsumsi jamur. Beruntung
akhirnya kami semua mampu melewati masa sulit tersebut setelah dua hari harus
membantu satu kelompok itu yang terus menerus muntah mengeluarkan isi perutnya.
Di
tengah keputus asaan karena tidak juga kunjung menemukan titik akhir yang
seharusnya sudah kami capai, siang itu rombongan kami ibarat mendapat hadiah
dari Tuhan. Kami dikasih kesempatan melihat langsung raflesia arnoldi atau yang
dikenal sebagai bunga bangkai, langsung di habitatnya. Di hutan tropis
Sumatera. Sejenak terlupakan rasa lelah memanggul ransel puluhan kilo, naik
turun pegunungan, hanya rasa senang yang ada saat itu.
Dalam
perjalanan ini pula saya akhirnya mendapatkan pembenaran bahwa pada hakikatnya
binatang buas akan menghindari manusia kecuali dalam kondisi terdesak atau
terpaksa. Berhari-hari dalam penjelajahan ini, tim kami selalu mendirikan camptepat
di pinggir sungai. Ini kami pilih tentunya karena sangat memudahkan kami akses
air untuk kepentingan memasak dan lainnya. Hampir tiap hari kami mulai
mendirikan campsekitar jam 16,00 atau paling lambat jam
18,00. Dan biasanya kami mulai terlelap setelah pada jam 20-21,00 setelah kami
melakukan rapat koordinasi untuk perjalanan esok harinya. Dan selalu, paginya
kami akan mendapati pemandangan yang sama. Kami selalu menemukan jejak harimau
di sekitar tenda kami. Dan tidak jauh dari lokasi tenda, pasti juga di temukan
entah bekas cakaran harimau pada pohon ataupun sisa kotoran mereka. Awalnya
tentu ada kekuatiran melihat itu, namun setelah beberapa hari kekuatiran itu
pun perlahan sirna.
Makanan
mulai menipis, bahkan ada kelompok perjalanan yang sudah menggantungkan diri
pada satu jenis makanan bahkan menambah jenis makanan dari apa yang ada di
alam. Ketika akhirnya rombongan kami keluar hutan dan menemukan ladang. Tak
terkira kebahagiaan yang dirasa. Berhari-hari dalam hutan sumatera yang lebat,
akhirnya hari itu kami menemukan ladang masyarakat. Adanya ladang, menunjukkan
bahwa dusun sudah tidak jauh lagi. Dan setelah seharian berjalan, kami pun
sampai di dusun yang seharusnya menjadi target kami beberapa hari yang lalu. Masyarakat
pun menyambut rombongan kami dengan senang, maklum mereka pun sudah kuatir
karena kami sudah jauh melewati target waktu yang di rencanakan. Di dusun ini,
rombongan BKP MAPALA UI 97 melakukan serangkaian bakti social. Ketika
berinteraksi dengan masyarakat, seolah terlupakan rasa lelah dan penat yang
menyelimuti tubuh kami hampir dua minggu ini. Setiap orang bahu membahu dengan
masyarakat mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Dan
akhirnya perjalanan ini pun ditutup dengan kami menyeberangi danau Ranau menuju
kota Ranau
dengan perahu kayu penumpang. Danau terluas nomer dua di pulau Sumatera.
Sungguh suatu perjalanan yang luar biasa. Pengalaman yang sangat berharga
begitu banyak saya dan teman-teman dapatkan. Disini kami belajar bersama,
bagaimana menghadapi keadaan sulit, belajar menghargai kawan, belajar
menghargai alam dan belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam
yang tiada dua.
Hmmm…terakhir sepertinya saya
bersepeda ketika masih di bangku SMA. Kurang lebih tahun 92 saat saya masih
kelas dua di SMAN 68 Jakarta.
Ya itulah terakhir saya mengayuh sepeda. Itupun tidak menjadi moda
transportasi, hanya untuk bisa jalan-jalan dengan teman lain.Tak sangka 14
tahun kemudian tepatnya di tahun 2006, saya kembali mengayuh sepeda. Bahkan
menjadikan sepeda sebagai moda transportasi utama bagi kehidupan sehari-hari
menuju tempat kerja.
Semua
berawal dari kekesalan akan semakin parahnya kemacetan di Jakarta pada saat itu. Hampir setiap
berkumpul dengan teman-teman, masalah kemacetan Jakarta menjadi salah satu topic hangat yang
kami bahas. Sampai akhirnya seorang teman, Arief Ridwan yang akrab di panggil
Tegar, mencetuskan untuk memulai bersepeda menuju kantor. Tegar sendiri sudah
mulai menggunakan sepeda sebagai moda transportasi pada saat itu. Sejuta
pertanyaan akan factor safety berkecamuk dalam benak dan hati. Rasanya seperti
menyerahkan nyawa ketika bersepeda membelah rimba lalu lintas Jakarta. Tapi akhirnya setelah Tegar terus
meyakinkan, tepatnya bulan Juni 2006, saya memulai menggunakan sepeda yang pada
saat itu saya beli seharga 2,8 juta. Rasanya seperti sudah mahal sekali bagi
saya saat itu, mengeluarkan uang hampir 3 juta hanya untuk sebuah sepeda.
Namun
berjalan dengan waktu, saya jatuh cinta dengan moda transportasi ini. Begitu
nikmat rasanya membelah kemacetan Jakarta,
sementara yang lain masih terjebak kemacetan di dalam mobil, bis ataupun motor.
Waktu yang selama ini terbuang di jalanan, bisa kembali saya nikmati. Waktu
istirahat ataupun hanya sekedar bersosialisasi dengan teman bisa saya nikmati.
Dan mengeluarkan uang untuk sepeda hingga puluhan juta pun sudah tidak lagi
terpikir oleh saya. Sepeda pun berubah menjadi kendaraan sehari-hari dan
sekaligus saya gunakan untuk menjelajah medan
offroad di akhir pekan. Sepeda yang awalnya satu buah untuk segala aktifitas,
terus tanpa terasa bertambah hingga lima
buah, di sesuaikan dengan kebutuhannya. Benar-benar sepeda sudah merasuki hampir
seluruh sendi kehidupan saya saat itu bahkan hingga kini.
Kecintaan
saya terhadap sepeda juga terus berevolusi. Berawal hanya sebagai kendaraan ke
kantor, berkembang juga digunakan untuk offroad mulai dari cross country, all
mountain hingga terakhir down hill pun saya lakukan. Sampai akhirnya saya tiba
di titik menemukan suatu sensasi baru dalam bersepeda, Touring. Touring atau
bersepeda jarak jauh, membawa saya ke suatu ekstasi berbeda dengan sebelumnya.
Kenikmatan menikmati suasana sepanjang perjalanan, mulai dari alam hingga
berinteraksi dengan masyarakat setempat membuat saya mulai meninggalkan offroad
dan beralih ke aktifitas touring ini. Touring perdana saya, dari Jakarta menuju Bandung.
Sangat melelahkan, rasanya seperti kapok selama dalam perjalanan. Tapi setelah
itu, ternyata kenikmatannya justru terus memanggil saya untuk mengulangi
perjalanan jauh, bahkan berpikir untuk semakin jauh dan semakin jauh lagi.
Sebuah mimpi pun masih terngiang hingga kini dalam benak. Suatu hari nanti saya
bermimpi bisa menjelajahi Negara-negara Asia Tenggara dan Eropa dengan
menggunakan sepeda kesayangan saya. Amiiiiinnnnn…..mudah-mudahan mimpi ini bisa
terwujud, seperti halnya mimpi saya untuk mencapai puncak Carstensz di Papua, yang akhirnya mampu saya wujudkan.
Dua kali sudah usaha saya untuk
mendaki ke gunung Kinabalu di Malaysia batal Karena masalah permit pendakian
yang gagal didapat karena terbatasnya jumlah pendakian di sana. Tak terbayang
begitu banyaknya orang yang ingin mendaki kesana, bahkan banyak diantaranya
adalah turis-turis asing. Banyak sudah foto-foto dan literature yang say abaca
tentang gunung Kinabalu dari teman-teman yang sudah melakukan pendakian kesana.
Kesimpulan saya adalah, kita di Indonesia
memiliki banyak gunung yang jauh lebih indah dari gunung Kinabalu di Sabah, Malaysia.
Salah satu gunung indah yang kita miliki adalah sepasang gunung “kembar”,
gunung Gede-Pangrango di cianjur, Jawa Barat.
Tidak
hanya indah dari kondisi alamnya, tapi gunung Gede-Pangrango juga kaya akan
potensi alam, sejarah hingga mitos. Sayang sekali kekayaan tiada dua yang
dimiliki belum bisa dimaksimalkan hingga kini. Banyak fasilitas yang belum
mendapat perhatian seperti halnya di taman nasional gunung Kinabalu. Ini
mungkin yang menyebabkan gunung Gede-Pangrango dan gunung lainnya di Indonesia
belum mampu di “jual” seperti halnya Kinabalu.
Mari
kita lupakan Kinabalu dan mulai bicara tentang Gede-Pangrango. Gunung Gede
adalah salah satu gunung berapi aktif yang terletak di Cianjur, Jawa Barat. Gunung
Gede bagaikan gunung kembar dengan gunung Pangrango yang bersebelahan
dengannya. Kedua gunung ini memiliki kekayaan flora fauna yang luar biasa
hingga kini. Statusnya sebagai taman nasional menjadikan gunung Gede-Pangrango
bagaikan tempat yang nyaman bagi beberapa flora dan fauna yang dilindungi.
Tersebut diantaranya Owa Jawa, Macan Kumbang, Elang Jawa menjadi penghuni di
wilayah taman nasional ini. Selain itu wilayah ini juga menjadi salah satu
tempat singgah bagi banyak jenis burung. Sehingga banyak pula para peneliti dan
pengamat burung yang memilih Taman Nasional Gede-Pangrango sebagai laboratorium
alam mereka.
Ada kaiitannya dengan
laboratorium alam, sesungguhnya wilayah gunung Gede-Pangrango sudah sejak lama
menjadi laboratorium alam penelitian para ahli. Tepatnya sejak masa penjajahan
Belanda. Salah satu bukti yang bisa di lihat hingga kini adalah dengan adanya
Kebun Raya Cibodas di kaki gunung Gede-Pangrango. Bahkan konon kabarnya di
sekitar pos pendakian Kandang Badak, masih terdapat sisa reruntuhan bangunan laboratorium
penelitian biologi Belanda. Jika hal ini benar, tentunya betapa besar potensi
sejarah yang dimiliki taman nasional ini.
Masih
berkaitan dengan sejarah di masa penjajahan Belanda, dalam beberapa literature
yang ditulis oleh para petualang Belanda, menyatakan bahwa ternyata gunung
Gede-Pangrango juga merupakan salah satu tempat tinggal terakhir dari badak
Jawa. Bahkan dalam bukunya, Junghuhn menulis, dalam pendakiannya dia bertemu
dengan sekumpulan badak Jawa yang sedang minum di sumber air, tepatnya yang
saat ini kita kenal dengan pos pendakian Kandang Badak. Nama pos pendakian ini
pun di ambil untuk mengenang kejadian yang di alami oleh Junghuhn. Sayangnya
kini tak ada lagi badak Jawa yang masih bisa kita temukan di taman nasional
ini.
Masih
bicara tentang potensi sejarah gunung ini, masih teringat dalam benak saya
cerita dari almarhum bapak Ook, yang rumahnya sering saya dan kawan-kawan
tumpangi sebelum mendaki ke gunung Gede-Pangrango. Dia pernah bercerita bahwa
gunung Gede-Pangrango juga merupakan basis benteng terakhir dari para tentara
pemberontak DI/TII. Di masanya, para tentara pemberontak, di malam hari sering
turun ke perumahan masyarakat untuk meminta makanan, terutama kediaman bapak
Ook yang pada masa itu adalah rumah terdekat dari batas hutan gunung
Gede-Pangrango. Menurut cerita dari para senior yang sudah mendaki disana sejak
tahun 60-an, juga tidak jarang dalam pendakiannya mereka menemukan sisa-sisa
camp dan kotak-kotak peluru yang di duga merupakan sisa peninggalan para tentara
pemberontak DI/TII.
Selain
dari potensi alam dan sejarah, Taman Nasional Gede-Pangrango juga menyimpan
kisah-kisah mithos dari kepercayaan masyarakat sekitar. Setidaknya ada dua
mithos yang kuat melekat di gunung Gede-Pangrango yang saat ini bisa saya dapatkan.
Mithos pertama ada di wilayah air terjun Cibereum di jalur pendakian Cibodas.
Di tengah derasnya air yang jatuh, ada sebongkah batu yang sekilas mirip dengan
orang besar berjubah. Penduduk sekitar percaya bahwa batu tersebut adalah
perwujudan dari seorang pertapa yang begitu khusuk dalam pertapaannya hingga
akhirnya membatu.
Cerita
mithos lainnya ada di alun-alun Suryakencana. Alun-alun Suryakencana adalah savanna
luas dekat kubah puncak gunung Gede yang di penuhi oleh pohon edelweiss. Nama
Suryakencana diambil dari mithos tentang seorang pangeran kerajaan Padjajaran
yang melarikan diri bersama pasukannya ke gunung Gede, ketika kerajaan Padjajaran
dihancurkan. Dan dalam pelariannya tersebut sang pangeran berikut pasukannya di
percaya masyarakat muksa atau naik ke nirwana. Hingga kini di saat-saat
tertentu ada beberapa orang yang pernah bersaksi mendengar suara derap pasukan
berkuda dan suara ringkikan kuda di area alun-alun Suryakencana. Ada versi cerita lain
yang mengatakan pangeran Suryakencana adalah anak keturunan raja Padjajaran
dari pernikannya dengan seorang jin.
Tentunya
mithos-mithos tersebut sulit untuk bisa dipercaya dengan logika. Di luar kita
percaya atau tidak, mithos-mithos yang ada di gunung Gede-Pangrango justru
menambah daya tarik dari gunung indah ini. Ya Taman Nasional Gunung
Gede-Pangrango, hingga saat ini masih merupakan gemilang mutiara yang belum
maksimal terasah. Kepedulian pemerintah baik daerah maupun pusat, juga
kepedulian para pendaki dalam menjaga kebersihan dan kelestarian di kawasan
ini, tentunya sangat diharapkan untuk bisa membuat kawasan ini menjadi kawasan
unggulan. Tidak hanya sebatas tingkat daerah, tapi bisa menyaingi gunung
Kinabalu di kawasan Asia Tenggara. Ini baru satu contoh kawasan unggulan yang
belum terasah. Sementara begitu banyak, bahkan mungkin ribuan lokasi yang bisa
menjadi unggulan wisata Indonesia
yang hingga kini bagai terabaikan.
Sorowako,
pertama kali mendengar nama ini adalah di tahun 90an. Ketika kakak saya bekerja
di PT INCO yang berbasis di Sorowako. Kesan pertama dari nama itu adalah tempat
yang terpencil dan serba terbatas. Apalagi ketika dengar kalau
keponakan-keponakan saya berenang di danau. Hati ini makin miris membayangkan
kehidupan kakak saya dan keluarga yang serba terbatas di daerah terpencil. Tapi
semua bayangan itu sirna seketika, ketika di tahun 2006 saya mendapat
kesempatan untuk bekerja disana. Jatuh Cinta pada pandangan pertama, itulah
kata yang tepat mewakili perasaan saya saat itu.
Setelah
satu jam penerbangan dari Makasar dengan menggunakan pesawat perintis milik
Pelita Air Service, sampailah saya di bandara mungil kota Sorowako. Kota di tengah pegunungan Verbeck, Nuha, Sulawesi
Selatan. Kesan yang pertama saya rasakan dalam perjalanan dari bandara, kota ini adalah kota
kecil yang sangat teratur dan tertib lalu lintasnya. Mobil perusahaan yang
menjemput saya, bahkan tidak mau jalan sebelum para penumpangnya semua menggunakan
seat belt. Mobil melaju perlahan sesuai anjuran rambu lalu lintas. Suatu
situasi lalu lintas yang belum pernah saya temukan di Jakarta.
Memasuki
kompleks perumahan karyawan, seperti memasuki surga dunia yang selama ini saya
impikan. Rumah-rumah panggung berbahan kayu di kelilingi oleh pohon-pohon besar
membuat suasana yang memang berudara sejuk pegunungan, semakin sejuk. Tak hanya
sejuk di mata, tapi juga sejuk di hati tentunya. Bentuk rumah panggung tidak
diadopsi dari bentuk rumah panggung tradisional Indonesia,
tetapi merupakan adopsi dari bentuk rumah di Canada, tempat asal perusahaan
INCO. Sayang, padahal budaya arsitektur tradisional Indonesia juga banyak mengenal
bentukan rumah panggung yang tentunya sesuai dengan kondisi alam sekitarnya.
Suasana
kerja yang terbagi menjadi tiga shift dalam seharinya, secara tidak langsung
membuat saya lebih disiplin waktu. Terutama dalam membagi waktu untuk makan,
istirahat dan olah raga. Untuk fasilitas olah raga, kota ini tidak ada kurangnya. Mau jenis olah
raga apapun, hampir semua bisa kita lakukan. FitnessCenter
dengan peralatan yang sangat baik, bisa diakses kapan pun. Bersepeda gunung
ataupun berlari lintas alam, Sorowako juga surganya. Apalagi yang mencintai
olah raga air. Berenang, kayaking, diving, windsurfing, jet ski ataupun sekedar
memancing, bisa dilakukan di danau Matano yang sangat jernih airnya.
Danau
Matano adalah salah satu dari tiga danau yang ada di daerah Sorowako. Danau
lainnya bernama danau Mahalona dan danau Towuti. Danau Matano adalah danau yang
terkecil diantara dua danau lainnya. Tapi jangan salah, Matano merupakan danau
nomer tujuh terdalam di dunia dan terdalam di Asia Tenggara. Dan kabarnya danau
Matano juga merupakan salah satu danau purba yang terletak di Indonesia. Bagi
orang yang menyukai olah raga selam, menyelam di danau Matano tentunya akan
memiliki sensasi tersendiri. Danau Matano memiliki jarak pandang yang baik, ini
dikarenakan airnya yang sangat jernih. Begitu jernihnya hingga jika kita masih
berada tidak jauh dari tepian, kita bisa melihat dasar danau. Di danau ini pula
kabarnya masih di temukan, tumbuhan air dan binatang air yang endemic atau
hanya ada di danau Matano. Belakangan ini, para penyelam juga menemukan banyak
peninggalan bersejarah masa lalu di dasar danau Matano. Penemuan itu berupa
antara lain, pecahan gerabah dan lain-lain.
Bicara
tentang sejarah daerah ini, ternyata pada masanya di tepian danau Matano
terdapat sebuah kerajaan yang konon tertua di Sulawesi.
Lebih tua dari kerajaan Gowa. Dan kabarnya pula, pada masa itu terjalin
hubungan yang baik antara kerajaan Matano dan kerajaan Majapahit. Diduga
kerajaan Matano lah yang mensuplai senjata untuk keperluan kerajaan Majapahit.
Hal itu dikaitkan dengan catatan dalan kitab Negarakertagama yang menyiratkan
hal tersebut. Bahkan ada jenis pamor pada keris Jawa, yang menggunakan namanya.
Jika dilihat dari masa sekarang, tentunya bukanlah tidak mungkin. Mengingat
sampai saat ini pun daerah Sorowako terkenal sebagai penghasil nikel yang
terbaik dan terbesar di dunia. Beberapa kali penelitian arkeologis pun
dilakukan oleh para ahli dari UNHAS. Sayangnya, menurut sumber di Sorowako,
penelitian-penelitian yang dibuat belumlah tuntas hingga kini karena terhalang
masalah biaya. Mudah-mudahan suatu hari nanti semua misteri arkeologis Sorowako
dengan Matanonya bisa terungkap.
Tidak
jauhnya jarak Sorowako dengan laut, membuat kita tidak sulit menemukan makanan
laut segar di kota
ini. Banyak restoran dan tempat makan yang menyediakan makanan laut. Salah satu
makanan khas Sorowako, Paco’ dan Kapurung juga menggunakan ikan sebagai bahan
bakunya. Bagi yang kurang menyukai makanan laut, tidak perlu khawatir. Karena
banyak tempat makan, terutama di hotel-hoter seputaran Sorowako menyediakan
berbagai jenis makanan, baik local ataupun internasional. Tapi sebaiknya jangan
terlalu berharap banyak tentang rasa makanan, selain makanan laut. Tidak bisa
dibilang tidak enak, tapi juga tidak bisa dibandingkan dengan makanan serupa
yang kita jumpai di Jakarta
misalnya.
Yang
sedikit sulit di Sorowako mungkin adalah penginapan yang layak dan memiliki
harga yang sesuai. Penginapan bisa dengan mudah kita jumpai di Sorowako. Tapi
harga yang harus dibayar seringkali membuat kita mengernyitkan dahi jika kita
bandingkan dengan apa yang kita dapatkan. Penginapan di Sorowako terbiasa
mendapatkan tamu dari para kontraktor ataupun tamu perusahaan PT INCO. Sehingga
mereka menerapkan standard harga yang cukup tinggi. Berbeda dengan
daerah-daerah wisata lain yang tersebar di Indonesia.
Keindahan
alam luar biasa dan keramahan masyarakatnya, membuat saya langsung jatuh cinta
pada daerah ini. Sekaligus membuat saya berat ketika harus meninggalkan
Sorowako untuk kembali ke Jakarta.
Sorowako adalah surga, yang jika dapat dikelola dengan benar akan menjadi
sumber kehidupan yang tidak habis bagi masyarakatnya. Tidak hanya hasil
nikelnya yang sangat layak jual, tapi keindahan alam dan potensi sejarah
Sorowako, tentunya sangat masih bisa di olah sebagai sumber pendapatan alternative
bagi masyarakat Sorowako. Yang perlu diingat, material tambang pasti lah ada
habisnya. Suatu hari nanti nikel akan habis dan INCO yang sekarang berubah nama
menjadi PT VALE akan meninggalkan Sorowako. Tapi potensi alam dan sejarah yang
dimiliki Sorowako tidak akan ada habisnya. Apalagi jika mulai dari sekarang
masyarakat dan pemerintah daerah bisa memulai usaha untuk menyelamatkan asset tersebut.
Sorowako mungkin kini jauh dari mata saya, tapi Sorowako akan selalu ada dalam
hati. Sorowako adalah surga yang terjatuh di bumi Celebes.
Hingga
beberapa tahun lalu, mungkin tidak banyak orang yang tahu nama desa Sawarna.
Mungkin hanya sebatas mendengan nama iya, tapi hanya segelintir orang saja yang
pernah mengunjungi tempat itu. Keindahannya, membuat desa Sawarna mendapat
julukan “Surga yang Tersembunyi di Selatan Jawa”. Tapi sangat berbeda dengan
kondisi dua hingga satu tahun terakhir. Di saat liburan terutama, desa Sawarna
sudah layaknya tempat-tempat hiburan pada umumnya. Ramai bagaikan pasar, padat
akan manusia dan kendaraan bermotor. Penginapan-penginapan di sekitar sana pun penuh oleh
pengunjung. Jangan lagi membayangkan tempat sunyi nan damai di tepian laut
selatan Jawa. Sudah jauh panggang dari api.
Desa
Sawarna, merupakan sebuah desa yang terletak di pantai selatan Jawa. Secara administrative
desa ini berada di wilayah provinsi Banten. Untuk mencapainya, dapat di akses
melalui jalur Sukabumi ataupun Pandeglang. Desa Sawarna terkenal dengan pantai
pasir putihnya yang memiliki garis pantai hingga 65 km, dan juga memiliki ombak
yang sangat bagus untuk kegiatan surfing. Sebenarnya selain dari keindahan
alamnya yang sangat menawan, Sawarna menyimpan sejuta pesona lainnya. Tidak
kurang dari latar belakang sejarah dan budaya yang dimiliki Sawarna, layak
untuk disimak.
Daerah
ini sangat kental sebenarnya dengan bagian dari jejak sejarah penjajahan
Belanda dan Jepang pada masanya. Sangat menarik jika di perhatikan, desa
Sawarna yang terletak di wilayah Banten, ternyata memiliki budaya Priangan yang
lebih kental. Jika di tarik ke belakang, ternyata ini ada kaitannya dengan
kehadiran perkebunan dan pertambangan batu bara tradisional milik Belanda di
daerah Sawarna. Menurut salah seorang tokoh masyarakat Sawarna, Belanda yang
saat itu membuka perkebunan kelapa, membawa para pekerja dari daerah Sukabumi
dan Bandung
untuk mengerjakan perkebunan tersebut. Daerah yang masih kosong tanpa penduduk
itupun, akhirnya menjadi suatu desa baru yang kemudian dinamakan Sawarna. Ada satu bukti sejarah
lain lagi yang sampai sekarang masih tanda tanya. Ada sebuah makam bangsa Belanda, tidak jauh
dari pinggir pantai. Tidak banyak wisatawan yang mengetahui keberadaan kuburan
ini. Pada nisannya tertulis nama Van Gogh. Banyak cerita yang simpang siur
tentang siapakah Van Gogh ini. Namun paling tidak ada dua cerita yang cukup
kuat di masyarakat. Cerita pertama adalah, Van Gogh yang nisannya ada di
Sawarna ini adalah masih ada hubungan darah dengan pelukis Belanda terkenal Van
Gogh. Yang pada saat itu sedang melakukan perjalanan dengan kapal laut. Tapi di
perjalanan beliau terserang penyakit hingga meninggal ketika kapal sedang berada
di sekitar Sawarna. Hingga akhirnya dimakamkanlah dia di pantai Sawarna. Cerita
lain lagi, VanGogh ini adalah kepala perkebunan kelapa Belanda pada masanya,
yang akhirnya meninggal di tanah Sawarna. Tentunya hal itu semua masih harus
dikaji lagi kebenarannya.
Memasuki
masa penjajahan Jepang, daerah ini merupakan titik konsentrasi Romusha. Banyak
korban yang jatuh pada masa ini. Hal tersebut dapat kita lihat dari tugu
Romusha yang dapat kita jumpai tidak jauh dari Sawarna. Kisah pedih kehidupan
masyarakat Sawarna pada masa penjajahan Belanda, bisa kita lihat dalam film
lama berjudul “Saijah dan Adinda” yang diangkat dari buku tulisan tokoh
nasional Max Havelaar.
Pada
masa kemerdekaan, pemerintah mengirimkan sejumlah tenaga pendidik dan tenaga
kesehatan. Mereka adalah warga Priangan, yaitu Bandung dan Sukabumi. Menurut kesaksian
beberapa saksi sejarah. Pada masa itu, mereka harus berjalan kaki dari
Malimping, kota
terakhir yang bisa dicapai dengan kendaraan. Hutan dan rawa harus mereka lalui
sebelum akhirnya sampai di desa Sawarna. Lama perjalananpun beragam, mulai dari
seharian penuh hingga 2 hari perjalanan untuk mencapai Sawarna. Baru belakangan,
akhirnya pemerintah daerah membuka akses jalan menuju Sawarna. Bahkan kini
aspal mulus akan menemani perjalanan orang yang akan mengunjungi Sawarna dengan
kendaraan bermotor.
Pada
masa awal pengembangan Sawarna menjadi daearah wisata, konsep eco tourism coba
di terapkan. Rumah-rumah penduduk didorong untuk menjadi penginapan bagi
wisatawan. Makanan tradisional juga bisa dinikmati oleh wisatawan yang tinggal
bersama dengan penduduk. Dengan konsep ini, selain masyarakat bisa mendapatkan
keuntungan dari kehadiran wisatawan secara langsung, bagi para wisatawan juga
lebih bisa menyelami budaya masyarakat Sawarna. Dan yang utama, penduduk
Sawarna menjadi tuan di rumahnya sendiri. Namun sayang, dalam perkembangannya,
jenis penginapan yang dikenal dengan home stay ini, mulai tersingkirkan oleh
kehadiran penginapan-penginapan jenis cottage yang mulai tumbuh. Para investor dari luar tidak ragu menanamkan modalnya
untuk membuat penginapan disana. Ujungnya tentulah kembali masyarakat Sawarna
sebagai tuan rumah hanya lah sebagai pekerja dan tidak lagi sebagai pemilik
dari perkembangan wisata Sawarna. Kontrol pemerintah daerah yang kurang juga
terlihat di pantai Sawarna. Jika sebelumnya pantai bersih dari aktifitas warung
makan dan minum, sehingga kebersihan dan keindahan pantai terjaga. Kini kondisi
tersebut jauh berubah. Sederetan warung menjamur di sepanjang garis pantai.
Tumpukan sampai tidak jauh dari sana
terlihat menumpuk. Juga ceceran-ceceran sampah terlihat di sepanjang pantai.
Melihat
potensi alam, budaya dan sejarah Sawarna yang begitu besar, apakah kita akan
membiarkan Sawarna tergerus oleh kepentingan ekonomi semata? Dibutuhkan kerja
keras dari semua pihak untuk menyelamatkan Sawarna sebelum kondisi menjadi
semakin sulit. Masyarakat dan Pemerintah Daerah harus berani mengambil
keputusan untuk menyelamatkan Sawarna. Tidak mudah silau dengan keuntungan
ekonomi sesaat. Sebaiknya mulailah belajar dari lokasi-lokasi wisata lain yang
sudah terlanjur rusak karena dampak industri wisata yang tidak terkendali.
Tulisan
ini saya buat, berdasarkan apa yang saya lihat dan amati selama beberapa kali
melakukan kunjungan ke Sawarna. Saya mencintai desa ini dan masyarakatnya. Dan
saya yakin masih banyak yang mencintai tempat ini. Masyarakat Sawarna harus
kembali menjadi tuan rumah di desanya sendiri. Kami pendatang ini hanyalah tamu
dan sahabat.
Siapa pendaki di Indonesia
dan mungkin juga di dunia yang tidak bermimpi suatu hari di masa hidupnya bisa
mencapai puncak Carstenz Pyramid di tanah Papua? Gunung dengan ketinggian 4884
mdpl, merupakan puncak tertinggi di Indonesia dan merupakan salah satu
dari 7 puncak tertinggi di tujuh lempeng benua. Dan menurut seorang teman yang
sudah mendaki beberapa puncak dunia, pendakian ke puncak Carstensz merupakan
salah satu yang tersulit secara technical maupun dari sisi non teknisnya.
Puncak
Carstensz Pyramid terletak di kawasan pegunungan Sudirman, Papua. Yang sampai
saat ini masih merupakan lokasi yang dianggap berbahaya dari gerakan
bersenjata. Meskipun wilayah ini sudah dinyatakan sebagai Taman Nasional,
tetapi perijinan untuk mendaki kesana tidak semudah pendakian atau perjalanan
ke taman nasional lainnya di Indonesia. Paling tidak perijinan dari pihak TNI
dan POLRI merupakan salah satu yang harus dikantongi oleh siapapun yang akan
melakukan pendakian kesana. Selain sulitnya perijinan pendakian, kesulitan juga
di perparah dengan sulitnya akses ke pegunungan ini. Hampir tidak ada
penerbangan regular ke desa awal pendakian. Pintu lain menuju kawasan ini
adalah melalui tambang Freeport,
yang bisa dibilang juga sulit didapat ijinnya. Segala hal tersebut sudah pernah
saya alami mulai dari tahun 92 hingga 99.
Sekitar
tahun 92, waktu itu saya masih duduk di bangku kelas dua SMA 68 Jakarta.
Bersama beberapa rekan yang kebetulan memiliki mimpi untuk bisa mendaki ke
Carstensz Pyramid, kami mencoba mengurus perijinan untuk melakukan pendakian,
namun gagal. Di tahun 99, saat itu saya sudah semester akhir kuliah di sastra
UI, bersama dengan teman-teman satu angkatan di Mapala UI kembali mencoba untuk
membuat pendakian ke Carstensz Pyramid dan kembali gagal. Di tahun 99,
perijinan dari semua pihak berwenang sudah kami kantongi, namun kami harus
berbesar hati untuk gagal berangkat karena tidak mencukupinya biaya perjalanan
yang mencapai 20jt per orang diluar biaya peralatan. Usaha untuk mendapat ijin
melintas dari Freeportpun sudah kami coba, namun juga tidak berhasil di dapat.
Sekedar informasi, bila kita berhasil mendapatkan ijin melintas dari Freeport, kita bisa
menghemat biaya lebih dari setengah total biaya pendakian normal. Yah sampai
saat itu, saya dengan semua anggota tim pendakian harus berbesar hati untuk
memendam kembali mimpi bisa menjejakkan kaki di titik tertinggi di Indonesia.
Kurang
lebih tujuh tahun setelahnya, tahun 2006, tanpa saya duga ternyata mimpi saya
akhirnya bisa menjadi kenyataan. Saat itu bulan Mei 2006, saat saya menjelang
kepulangan ke Jakarta
dari lokasi kerja saya di Sorowako yang telah habis masa kontraknya, saya
mendapat kabar bahagia tersebut. Ripto Mulyono yang akrab dipanggil Mul,
memberi kabar bahwa saya akan dia ajak mendampingi tim Liputan 6 SCTV mendaki
Carstensz Pyramid di bulan Agustus. Antara percaya dan tidak dengan ajakan
tersebut. Masih seperti mimpi mendengar tawaran itu. Mimpi bertahun-tahun yang
sudah sempat saya pikir tidak akan bisa tercapai, sekarang sudah ada di depan mata.
Tak kurang kata sukur saya panjatkan ke Allah saat itu.
Ripto
Mulyono adalah salah satu senior dan pelatih tim saya di Mapala UI, saat saya
menyiapkan pendakian ke Carstensz di tahun 99. Dari dialah selama ini, mimpi
untuk bisa suatu hari mendaki Carstensz dan puncak dunia lainnya terus terjaga
di hati nurani saya dan teman-teman di Mapala UI. Ripto adalah salah satu dari
sedikit pendaki gunung Indonesia
yang menjajaki pendakian “Seven Summits” oleh orang Indonesia. Bahkan di tahun 96,
Ripto hampir saja berhasil mencapai puncak Everest di Nepal bersama dengan tim
Kopassus. Dan hingga kini, saya rasa hanya dialah yang sudah melakukan
pendakian terbanyak ke Carstensz Pyramid. Saya yakin segudang pengalamannya lah
yang membuat SCTV meminta dia untuk menyiapkan dan membentuk tim untuk
pendakian di Agustus 2006 itu.
Dan
hari besar itupun tiba. Enam orang pendaki dari Liputan 6 SCTV dan enam orang
pendaki dari beberapa pencinta alam universitas, berangkat menuju Timika. Kota awal yang akan
menjadi awal pendakian kami ke pegunungan Sudirman. Pendakian yang akan kami
lakukan mendapat akses melalui kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia.
Dengan menumpang pesawat Airfast, kami berangkat pagi itu. Kurang lebih tujuh
jam waktu tempuh penerbangan normal Jakarta-Timika. Penerbangan yang
melelahkan. Dan ternyata itupun masih harus ditambah dua jam karena cuaca
buruk, sehingga pesawat yang kami tumpangi harus transit di Nabire, sebelum
akhirnya bisa mendarat di Timika. Faktor cuaca memang juga salah satu obstacle perjalanan
dengan pesawat ke tanah Papua.Setelah perjalanan berjam-jam, akhirnya pesawat
kami pun mendarat di Bandar udara Internasional Mozes Kilangin, Timika. Namanya
adalah Bandar Udara Internasional, tapi jangan berharap melihat bandara mewah
seperti layaknya Bandar udara di belahan Indonesia yang lainnya. Bandara
yang sangat minimalis, bahkan gedung terminalnya mungkin tidak lebih besar dari
satu gedung fakultas di UI. Tidak akan dapat kita jumpai roda berjalan tempat
kita menunggu bagasi layaknya di Bandar udara lainnya. Yah semua serba
minimalis, namun di balik segala keterbatasan itu, bandara ini relative bersih
dan teratur. Tidak seperti Cengkareng yang kian hari kian kumuh.
Sesampainya di
Timika, rombongan kami di jemput oleh perwakilan dari PT Freeport, om Ronald
namanya. Orang yang kemudian saya kenal sebagai orang yang sangat ramah dan
baik hati. Setelah mendapatkan safety induction sebagai safety standard
memasuki kawasan Freeport, om Ronald mengajak
kami menuju penginapan di kota
Timika. Yah kami memang tidak langsung menuju Tembagapura, karena masih ada
beberapa persiapan yang akan kami lakukan di kota ini. Yang paling utama adalah berbelanda
beberapa kebutuhan makanan. Karena akan sangat sulit dan mahal jika kita
membelinya di Tembagapura nanti. Penginapan yang sederhana tapi sangat baik
kondisinya. Sangat nyaman bahkan. Ini adalah penginapan yang biasa digunakan
oleh para tamu Freeport
jika menginap di Timika. Malam itu, selepas ngobrol ngalur ngidul antara
anggota tim pendakian, kami pun terlelap di kelam malam kota Timika.
Pagi itu selepas
bangun tidur, saya lihat ada sebuah bis yang sangat besar di parkiran halaman
hotel. Ternyata itu adalah bis yang akan mengangkut kami menuju Tembagapura
hari ini. Selepas sarapan dan sedikit berbelanja kebutuhan makanan pendakian,
rombongan kami pun berangkat. Hari sudah menjelang siang saat itu. Perjalanan
menuju Tembagapura menyajikan pemandangan alam luar biasa. Tak jarang, bis yang
kami tumpangi harus berhenti hanya karena kebutuhan rombongan mengambil gambar.
Sayang rasanya jika keindahan seperti ini tidak terabadikan. Banyak pula
kendaraan tambang yang berpapasan dengan bis kami. Pemandangan yang umum, khas
daerah pertambangan. Yang membedakan dari lokasi tambang lain yang pernah saya
sambangi, mungkin ukuran dari kendaraan-kendaraan di Freeport relative lebih
besar. Perjalanan dari Timika menuju Tembagapura juga terkesan ketat dari sisi
keamanannya. Bis kami di kawal oleh dua kendaraan security mulai dari gerbang
masuk kawasan tambang di kota
Timika tadi. Selain itu, tidak kurang dari tiga buah pos pemeriksaan keamanan
harus kami lalui hingga sampai di Tembagapura.
Di Tembagapura,
rombongan kami mendapatkan pinjaman sebuah “Flat” mirip apartment di area
perumahan baru mereka yang nama daerahnya adalah HiddenValley.
Sesuai dengan namanya, lokasi perumahan ini memang terletak di dasar lembah
yang dikelilingi oleh hutan dan tebing. Sangat indah. Belum pernah dalam hidup
saya, menemukan keindahan alam seperti yang saya jumpai saat itu. Sampai di
Tembagapura, tidak ada waktu istirahat bagi kami ternyata. Sejumlah agenda
sudah disiapkan. Mulai dari persiapan peliputan upacara kemerdekaan,
pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan peralatan pendakian, jamuan makan malam dan
masih banyak lagi. Ada
hal menarik ketika kami baru saja memasuki ruangan yang di pinjamkan untuk
kami. Tiba-tiba saja pintu ada yang mengetuk, ketika dibuka seorang anak dengan
sepiring pisang goreng berdiri di muka pintu. Ternyata anak itu mengirimkan
titipan ibunya, sekaligus mengundang kami untuk makan bersama dengan
keluarganya malam itu. Begitu hangat sambutan para warga disini, cukup
menghangatkan hati di tengah membekunya suhu udara di HiddenValley.
Empat hari saya
dan seluruh anggota tim tinggal di Tembagapura. Segala persiapan dan peliputan
yang dibutuhkan oleh tim SCTV sudah rampung kami lakukan. Sekaligus juga kami
gunakan guna proses aklimatisasi tubuh dengan ketinggian. Dan pagi itu
rombongan kami pun di jemput dengan bis untuk menuju High Camp. Semua peralatan
kami bagi dua. Peralatan pendakian untuk empat hari pertama kami bawa dalam
ransel masing-masing, sementara sisanya termasuk peralatan pemanjatan dan
peralatan listrik dipisahkan untuk di drop dengan helicopter langsung di Lembah
Danau-Danau, base camppendakian kami nantinya.
Cuaca cukup dingin pagi itu, dengan diiringi pula oleh gerimis hujan, kami
menuju High Camp. Bis yang mengangkut kami, menurunkan rombongan di tempat
keberangkatan kereta gantung. Untuk mencapai High Camptidak
bisa dengan menggunakan bis. Dari kereta gantung ini kami bisa melihat dengan
jelas lokasi pertambangan Freeport.
Kabut tipis sesekali menutupi pandangan. Sampai di High Camp bis lain sudah
menunggu, termasuk juga satu mobil Emergency Response Group yang akan mengawal
rombongan hingga Bali Dam. Berikutnya yang kami sambangi adalah Pos Ayam Hitam.
Pos pemeriksaan keamanan terakhir di wilayah tambang Freeport. Pos ini dijaga oleh para prajurit
TNI. Sejumlah urusan admisnistrasi harus kami lakukan disini sebelum memulai
pendakian. Pos yang kecil, dingin tapi cukup bersih dan rapi. Dari Pos Ayam
Hitam, rombongan kami menuju Bali Dam, titik awal pendakian kami. Ripto Mulyono
sebagai ketua pendakian memutuskan kami akan menginap malam ini di kaki tebing
Zebra Wall, tepat di bawah Bali Dam. Keputusan ini di buat untuk proses
aklimatisasi seluruh anggota tim pendakian. Maklum saja, ketinggian saat itu
sudah hampir 4000 mdpl, berbeda lebih dari 1000 mdpl dibandingkan ketinggian
Tembagapura. Malam pertama di pegunungan Sudirman, saya bisa istirahat dengan
baik walau semalaman diiringi suara alat berat pertambangan Freeport.
Hari ke dua
pendakian, semua anggota tim dalam kondisi prima. Tidak ada masalah dengan
aklimatisasi tubuh. Cuaca juga cukup cerah, walaupun sempat gerimis dan
berkabut tipis. Target pendakian kami hari ini adalah Danau Biru di kaki tebing
Wachter, New ZealandPass dan Pintu Angin.
Tidak lama berjalan, kami sudah sampai di tujuan. Cuaca cukup berangin di sini.
Udara dingin menusuk tulang mulai saya rasakan. Di hadapan kami adalah tanjakan
tajam melewati Pintu Angin unutk menuju Base Campkami
nantinya di Lembah Danau-Danau. Malam ini saya merasakan sedikit pusing di
kepala. Mungkin ini adalah tanda gejala mountain sickness, proses aklimatisasi
yang kurang baik di tubuh saya. Tapi bagaimanapun saya paksakan untuk bisa
tidur dan istirahat maksimal malam itu. Sampai besok paginya ternyata sedikit
pusing di kepala belum juga hilang. Dan ternyata saya tidak sendiri, beberpa
anggota tim pendakian juga mengalamai hal serupa. Ripto pun memutuskan unutk
menambah satu hari lagi untuk menginap di tepian Danau Biru ini untuk bisa
memperbaiki kondisi tubuh, sekaligus juga menunggu kepastian dropping logistic
dengan helicopter dari Freeport.
Hari ke tiga ini cuaca kurang bersahabat. Seharian campkami
diguyur hujan walaupun tidak lebat. Angin pun sedikit kencang menghantam tenda
kami. Suhu sedikit lebih dingin dari hari kemarin. Aktifitas hari ini kami isi
dengan memasak dan mengobrol penuh canda, menghibur diri. Dan tentunya sejumlah
gambar tidak juga luput dari kamera kami.
Hari ke empat
pendakian, kami semua bangun dengan kondisi tubuh yang prima kembali. Tidak ada
lagi pusing di kepala. Dan ketika kami selesai makan serta packing ransel
masing-masing, helicopter pengangkut logistic kami pun lewat di atas kami
menuju Lembah Danau-Danau. Cuaca cukup baik hari itu. Hampir siang saat kami
memulai pendakian menuju Base Camp. Melewati tanjakan menuju Pintu Angin sangat
melelahkan. Kecuraman tanjakannya memang lumayan, mungkin juga di tambah dengan
faktor ketinggian yang sudah 4000 mdpl membuat kami lebih mudah lelah.
Rombongan pendakian berjalan pelan saling berdekatan. Ripto sesekali berteriak
memberi semangat. Hari menjelang sore ketika saya sampai di Lembah Danau-Danau.
Hujan deras menyambut kedatangan tim kami di sana. Sebuah flysheet darurat kami bentangkan
untuk melindungi tubuh dan beberapa peralatan yang rawan dari air hujan. Ketika
hujan tidak lama kemudian mereda, kami pun mulai membangun tenda. Enam buah
tenda kami dirikan, meliputi satu tenda makan, satu tenda peralatan elektronik
penyiaran dan empat tenda untuk kami tidur. Udara semakin dingin malam itu,
anginpun kurang bersahabat. Selepas makan malam dan membersihkan semua alat
makan masing-masing. Seluruh anggota tim pendakian pun telah terlelap dalam
tenda masing-masing. Malam itu sekitar jam 3,00 dini hari, Ripto membangunkan
kami. Base Campkami di terjang badai salju. Tenda makan
kami sudah rata dengan tanah karena tidak kuat menahan beban salju yang
menimpanya. Sejadinya lah tengah malam dingin kami harus menyelamatkan tenda
dan peralatan kami dari terjangan badai salju. Hujan salju di barengi dengan
angin baru mereda sekitar pulul 05,00 pagi. Berbarengan dengan mulai terbitnya
matahari. Kami pelan-pelan mulai membangun kembali tenda makan kami yang rata
dengan tanah. Memasak makan pagi itu pun terpaksa kami lakukan di luar.
Di hari ke lima
ini, saya, Fahmi dan Epoy, di tugaskan Ripto untuk mendrop sebagian peralatan
di teras besar Puncak Jaya, ini diperlukan untuk menghemat beban yang akan kami
tanggung pada hari pendakian tim besar nantinya. Mengingat beban peralatan yang
akan kami bawa nantinya sangat banyak. Target pendakian ini nantinya adalah
pemecahan record oleh tim Liputan 6 SCTV sebagai tim peliputan pertama yang
melakukan siaran langsung dari titik tertinggi. Dan kesempatan itu, saya pikir
akan baik bagi proses aklimatisasi tubuh. Kami bertiga sampai kembali di campketika
hari hampir sore. Saat kami tiba, tim SCTV sedang menyiapkan siaran langsung
dari campkami di Lembah Danau-Danau. Hari-hari di
camp, sejauh ini kami lalui dengan bahagia. Walaupun ada beberapa kejadian
seperti badai salju, tapi kami sangat menikmati perjalanan ini. Malamnya, di
tengah tidur, saya terbangun. Kepala rasanya bagai dipukuli palu. Sakit bukan
main. Ya saya kembali terkena mountain sickness dan ini lebih berat dari yang
saya rasakan sebelumnya. Segala cara saya coba, tidak juga berhasil
menghilangkan sakit kepala itu. Akhirnya pilihan terakhir, obat dari Ripto saya
konsumsi. Dan tidak lama sakit kepala berangsur berkurang dan malam itu saya
bisa tidur lagi. Alhamdulillah…
Pagi hari ke
enam pendakian, Ripto mencek kondisi seluruh anggota tim. Ternyata saya tidak
sendirian terkena serangan mountain sickness. Aldian, produser Liputan 6, juga
terkena dan sedikit lebih parah dari saya. Novri, kameramen Liputan 6, juga
merasakan hal serupa. Menanggapi hal itu akhirnya Ripto memutuskan untuk
menambah hari istirahat di camp Lembah Danau-Danau. Tidak ada hal yang istimewa
hari itu, selain hunting foto sekitaran camp dan peliputan yang dilakukan tim
Liputan 6. Tak jauh dari campkami, saya menemukan
sebuah prasasti dari alumunium tebal, mengenang rekan-rekan Aranyacala Trisakti
yang meninggal dalam usaha pendakiannya ke Carstensz Pyramid. Sejenak saya dan
beberapa teman memanjatkan doa saat itu. Apapun yang terjadi, usaha mereka
merupakan catatan sejarah pendakian di Indonesia.
Hari ke tujuh
adalah hari awal pendakian kami menuju puncak Jaya. Target pendakian kami hari
ini hanya sampai di teras besar, dimana kami telah mendrop beberapa peralatan
sebelumnya. Perjalanan hari ini sedikit lebih lambat dari ketika saya mendrop
barang. Mungkin jumlah beban dan banyaknya orang mempengaruhi. Sekitar jam
16,00 kami baru tiba di teras besar. Dua buah tenda pun kami dirikan. Malam yang
terasa panjang. Tidur malam itu terasa sangat tidak nyaman, hanya tidur ayam
saja. Tidur berdesakan di tambah beralaskan serakan batu di bawah tenda, tidak
mampu membuat saya dan beberapa teman istirahat dengan baik. Belum lagi di
tambah dengan angin yang dinginnya menusuk tulang di luar sana.
Jam menunjukkan
pukul 5,00 pagi waktu itu. Kami mulai bersiap melakukan summit attack di hari
ke delapan pendakian kami. Diiringi hujan salju, kami mulai merayapi rute
pendakian puncak Jaya. Ice Axe cukup membantu saya melewati medan bersalju yang semakin tebal karena efek
dari hujan salju yang belum juga berhenti. Beberapa ratus meter dari puncak,
kami berhenti di sebuah medan
batuan rata yang cukup luas. Di situ Aldian dan Ripto membagi tim menjadi dua.
Tujuh orang termasuk saya akan terus menuju puncak, sementara sisanya akan
menetap disana untuk menyiapkan siaran langsung ke Jakarta. Pendakian pun kami lanjutkan.
Aldian, Radit dari Liputan 6 dan saya bergantian mengoperasikan kamera, meliput
pendakian menuju puncak. Semakin mendekati puncak, hujan salju semakin deras
turun menimpa kami. Lapisan saljupun semakin tebal. Setiap langkah yang saya
lakukan, akan masuk sekitar setinggi dengkul ke dalam salju. Hal itu membuat
langkah pendakian semakin lambat. Maklum di tim kami, relative hanya Ripto yang
sudah berpengalaman mendakidi situasi seperti itu. Dan akhirnya, masih di
tengah cuaca buruk, baru sekitar jam 12,00 siang kami sampai di puncak Jaya
dengan ketinggian 4862 mdpl. Siaran langsung pun kami lakukan. Alhamdulillah
berhasil siaran langsung ini, dan sekaligus juga untuk saya pribadi akhirnya
bisa mencapai puncak salju khatulistiwa ini. Tinggal satu puncak lagi
berikutnya, Carstensz Pyramid.
Perjalanan turun
dari puncak tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Tubuh semakin
terkuras tenaganya. Sementara hanya indomie dan coklat, makanan yang masuk ke
dalam perut seharian ini. Sekitar jam 20,00 saya, Radit dan Epoy sampai di
camp. Jalan sudah bagaikan zombie, pandangan sudah tidak focus, dan sandungan
batu-batu sepanjang jalan cukup untuk membuat kami berkali-kali terjatuh.
Beruntung cuaca cukup cerah malam itu mengiringi perjalanan kami turun.
Sesampai di camp, sebelum istirahat, sambil menunggu teman lain kami sempatkan
untuk memasak minuman hangat. Dan saya memaksakan diri untuk bisa memasukkan
makanan ke dalam perut. Kelelahan yang amat sangat di tambah suhu dingin
membuat napsu makan menghilang. Malam itu saya tidur bagai mayat. Mungkin kalo
ada badai lagi malam itu, saya belum tentu dengar dan mampu membuka mata.
Beruntung, benar-benar Allah memberikan bonus cuaca cerah malam itu mengiringi
tidur kami.
Pagi hari di
hari ke sembilan pendakian ini, selepas sarapan pagi Aldian meminta ke Ripto
untuk turun ke Tembagapura. Dia merasa kondisi tubuhnya makin drop setelan
pendakian puncak Jaya sehari sebelumnya. Mountain Sickness semakin menggerogoti
tubuhnya. Dia cerita kalo dia sudah mengalami halusinasi pagi itu. Ripto
bergerak cepat, dia minta Fahmi mengkontak ke ERG di Freeport untuk bersiap
melakukan evakuasi. Sementara tim Liputan 6 juga melakukan koordinasi siapa
yang akan melanjutkan peliputan pendakian Carstensz Pyramid dan siapa yang akan
turun menemani Aldian. Akhirnya diputuskan Radityo Wicaksono dan Akemona untuk
tetap di camp, berisap untuk peliputan berikutnya, sementara yang lainnya dari
Liputan 6 akan turun mendampingi Aldian. Perpisahan pun terjadi, sedikit sedih
setelah satu minggu bersama. Kini harus ada beberapa teman yang harus kembali
lebih cepat. Tapi saya rasa ini adalah keputusan yang tepat dari pada
memaksakan kondisi.
Tiga hari
lamanya kami di Lembah Danau-Danau menanti cuaca yang bagus untuk memulai
pemanjatan ke puncak Carstensz Pyramid. Dan akhirnya di hari ke 12 dini hari
itu, sekitar jam 2,00 Ripto membangunkan kami. Peralatan yang sudah kami
siapkan dari beberapa hari terakhir membuat persiapan yang kami lakukan tidak
terlalu lama. Radit dan Akem memutuskan untuk tidak berangkat, mengingat
pemanjatan ke Carstensz berbeda dengan ke puncak Jaya. Di Carstensz sangat
dibutuhkan kemampuan teknis dan pengalaman pemanjatan tebing yang mumpuni.
Tidak ingin menghambat pemanjatan, menjadi alas an mereka untuk tidak ikut
menuju puncak. Akem menitipkan kamera ke saya, Radit pun menitipkan liputan
yang dia butuhkan. Kamera saya bagi dua. Saya pegang satu kamera, Epoy juga
pegang satu kamera. Berdasar pengalaman hari sebelumnya di Puncak Jaya, battere
akan sangat boros di cuaca dingin ini. Saya putuskan kamera akan menyala
bergantian antara saya dan Epoy. Perjalanan pun di mulai. Dari Lembah
Danau-Danau, kami mendaki menuju lembah kuning yang terpisah kawasan puncak
tengah. Kami sampai di kaki tebing Carstensz di lembah kuning sekitar jam 3,00
dini hari. Sinaran dari cahaya headlamp menerangi pemanjatan kami. Satu persatu
kami ber enam merayapi tebing Carstensz dengan bantuan fix rope. Saya menjadi
pemanjat terakhir. Jam menunjukkan hampir jam 6,00 pagi ketika sampai di teras
besar. Kami istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan alam tiada dua.
Cuaca cerah pagi itu. Terlihat hampir semua puncak di pegunungan Sudirman,
termasuk puncak Jaya dan puncak Soemantri yang diliputi salju abadi. Tak bisa
lama kami beristirahat, karena waktu terus berpacu. Summit Ridge kami susuri
dengan hati-hati. Beberapa jurang dalam harus di lalui. Lumayan membuat hati
ini kecut juga melihat dalamnya jurang yang harus kami lewati. Seratus meter
sebelum puncak, hujan salju kembali turun. Tali yang kami gunakan juga semakin
kaku dan licin. Membuat ascender yang kami gunakan tidak lagi bisa menggigit
maksimal. Perlahan tapi pasti terus kami susuri tebing puncak Carstensz
Pyramid. Dan akhirnya tepat jam 12,00 siang itu saya berhasil menjejakkan kai
di puncak Carstensz Pyramid, 4884 mdpl. Puncak tertinggi di Indonesia dan
juga Austrolasia. Air mata tanpa sadar mengalir, mimpi ini akhirnya tercapai.
Ripto datang memeluk dan memberi selamat. Begitu juga Fahmi, Heru, Epoy dan Avi
bergantian saling memberi selamat. Dalam hati, tak henti saya mengucap syukur
atas nikmat yang diberikan Allah pada saya.
Yah hari itu
saya merasakan sendiri akhirnya, bahma jangan pernah kita mnegubur mimpi.
Karena suatu hari mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Dan benar adanya bahwa
segala sesuatu juga berawal dari mimpi, Maka jangan pernah berhenti untuk
bermimpi. Bermimpi untuk mencapai suatu target setinggi langit jika perlu. Mari
kawan kita lanjutkan mimpi kita.
Tidak pernah terbayang dalam
benak saya selama ini untuk melakukan perjalanan bersepeda dengan jarak yang
jauh. Apalagi sampai lebih dari satu hari alias harus pakai menginap di
perjalanan. Perjalanan terjauh saya dengan bersepeda selama ini hanyalah Jakarta-Bogor
PP dengan jarak kurang dari 200 km, itupun terkadang pulangnya saya menumpang
KRL dari stasiun Bogor. Tapi entah apa yang ada di benak sayaa saat itu, ketika
mengiyakan ajakan Asep untuk ikut touring ke Sawarna. Yang jaraknya dari Jakarta kurang lebih 250
km. Apalagi Asep berencana untuk melakukannya pulang pergi.
Dan
hari itu pun tiba. Sesuai dengan janjian sebelumnya, meeting point yang
disepakati adalah di rumah Iye di daerah Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Ternyata
cukup banyak yang ikut dalam perjalanan ini. Di rumah Iye sudah ada Bayu, Devin
dan pak Mito.
Dari rumah Iye kita menuju rumah Odel di Tangerang dengan melalui BSD. Di
tengah perjalanan Asep pun bergabung. Perjalanan menuju Tangerang tentunya
tidak ada yang menarik selain kepadatan kendaraan dan jalanan yang berdebu juga
rusak disana sini. Setelah menjemput Odel di rumahnya, perjalanan pun kami
lanjutkan menuju Rangkas. Tidak jauh dari rumah Odel, kami sepakat untuk makan pagi
yang terlambat dulu di sebuah warung Warteg yang kami lalui.
Tidak
lama kami makan, sekedar menurunkan makanan, perjalananpun di lanjutkan.
Jalanan rusak cukup menyiksa dan menghambat perjalanan karena kecepatan tidak
bisa dipacu maksimal. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi terasa
sangat lama. Baru sekitar jam 15,00 rombongan kami sampai di kota Rangkas. Perut terasa sudah kosong lagi,
terkuras energi di jalanan rusak, berdebu dan panas matahari yang menyengat. Sebuah
warung yang lumayan lengkap kami temui. Lumayan cukup banyak pilihan menu untuk
mengisi perut kami yang kosong ini. Baru saja selesai makan dan bersiap
melanjutkan perjalanan, hujan deras mengguyur kota Rangkas. Dan ternyata hujannya cukup
awet. Dua jam sudah kami menunggu tidak ada tanda hujan berkurang. Akhirnya
kami putuskan untuk menginap di Rangkas malam itu. Karena cukup berbahaya jika
kita kemalaman di daerah Gunung Kencana nanti. Mencari-cari penginapan, belum
juga dapat yang sesuai. Tiba-tiba ibu warung menawari kami untuk meninap di
rumahnya. Wah Alhamdulillah kalo begitu. Tidak masalah untuk kami walaupun
hanya beralaskan matras, yang penting bisa beristirahat mala mini untuk
melanjutkan kembali perjalanan besok yang masih panjang menuju Sawarna. Melahap
tanjakan Gunung Kencana yang kabarnya aduhai.
Sekitar
jam 9 pagi esok harinya, selepas sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Asep
yang sudah berkali-kali ke Sawarna beada di depan sebagai penunjuk jalan.
Jalanan relative jauh lebih baik kondisinya dibandingkan jalan yang kemarin
kita lalui. Karakter jalannya mulai sedikit banyak menanjak. Awalnya saya piker
wajar karena seperti yang saya tahu dari Asep, kita akan menuju kawasan gunung
Kencana. Tapi setelah beberapa jam berjalan, Asep baru sadar kalo jalan yang
kami lalui ternyata berbeda dengan jalan yang biasa dia lalui. Wah bagai
mendapat jackpot kagetnya, kami membuang waktu berjam-jam untuk rute yang
ternyata salah. Untuk kembali lagi ke kota
Rangkas rasanya tidak mungkin. Akhirnya Asep memutuskan untuk memotong jalan
seperti arahan penduduk. Berjam-jam kami melalui jalan “potong” yang ternyata
merupakan jalanan yang belum selesai pembangunannya. Masih berbatu dan
bercampur tanah. Perjalanan pun saya rasakan semakin berat. Apalagi untuk saya
yang baru kali ini melakukan touring dengan sepeda.
Keuntungan
dari “nyasar” ini, kami menemukan pemandangan yang cukup indah. Tidak seperti
jalur normal yang biasa saja, khas daerah pinggiran Banten. Berjam-jam kami
lalui jalanan setengah jadi ini sebelum akhirnya kami menemukan kembali jalan
yang sebenarnya menuju Gunung Kencana. Perjalanan menanjak yang sebenarnya pun
saya lalui. Jalanan aspal cukup halus membelah perkebunan sawit Gunung Kencana.
Cuaca sangat panas. Perbaikan jalan sedang berjalan di beberapa titik yang kami
lalui. Makan siang hari ini lumayan membangkitkan selera. Tanpa sengaja kami
menemukan warung kecil yang menjual satay maranggi. Lumayan mengenyangkan,
mengisi perut yang terkuras menghadapi tanjakan Gunung Kencana, yang seperti
Asep bilang memang aduhai.
Rombongan
sudah terpecah, tidak lagi berjalan berdekatan seperti sebelumnya. Kemampuan
fisik dan pengalaman berjalan panjang terlihat sangat berpengaruh. Saya sudah
tidak peduli lagi dengan siapa yang ada dimana, yang ada dipikiran saya cuma
bagaimana bisa mencapai Malimping, kota
kecil sebelum masuk daerah Sawarna. Sial memang tidak bisa di duga. Tas Pannier
yang baru saja saya beli di Rodalink, jebol sangkutannya ke rack. Baut
pengikatnya hilang pula. Tidak lama, tiba-tiba sebuah angkot berhenti. Di
dalamnya ada Iye dan Bayu yang menawari saya ikut naik angkot dengan mereka
menuju Malimping. Tak berpikir dua kali, saya iyakan ajakan itu. Pikiran
terlanjur kesal dengan pannier bag yang jebol. Angkot yang kami tumpangi sampai
di Malimping pukul 16,00. Sambil menunggu teman-teman yang lain, saya langsung
berusaha memperbaiki pannier bag. Untungnya, saya punya cadangan baut yang saya
simpan di tools box. Tidak lama pak Mito,
Devin dan Odel datang dan kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Sawarna.
Hari
semakin gelap dan hujan gerimis sudah mulai mengguyur membasahi perjalanan
kami. Kami memutuskan untuk mampir ke sebuah warung makan di pinggir jalan
sambil menunggu Asep. Beragam pesanan untuk mengisi perut yang kosong
dilayangkan ke pemilik warung. Sambil makan, candaan pun mengalir dari mulut
teman-teman. Apalagi setelah Asep tidak lama kemudian sampai juga di warung
itu. Hal lucu terjadi ketika kita membayar makan. Apapun makanannya, mulai dari
Indomie sampai nasi Ayam, harganya sama. Tentu saja hal itu membuat dongkol
kami yang hanya memesan indomie. Bukan marah yang keluar dari mulut kami, tapi
malah tawa yang berderai.
Asep
sebagai yang sudah tahu jalur berpesan kepada kami tentang perjalanan menuju
Sawarna. Perjalanan malam tentunya berbeda dengan perjalanan siang. Kami
diminta untuk saling menjaga jarak tidak lagi berjauhan seperti di Gunung
Kencana. Jalur yang akan kami lalui berikutnya akan didominasi dengan jalan
aspal halus di tengah hutan. Cuaca setelah hujan menimbulkan kabut tipis yang
menghalangi pandangan di tengah hutan itu. Kayuhan pelan tapi pasti terus kami
lakukan. Perjalanan naik turun, rolling menuju Sawarna. Cahaya lampu sepeda
kami tak mampu menembus kabut yang terus ada tak mau menyingkap. Tibalah kami
akhirnya di sebuah warung yang sudah tutup. Desiran angina laut akhirnya kami
rasakan. Di kejauhan di bawah sana
terlihat samar lampu-lampu dari rumah pedesaan. Yah akhirnya kami sampai di
desa Sawarna. Hampir jam 24,00 kami tiba di rumah kang Hendi. Tempat kami
menumpang menginap selkama di desa Sawarna. Dua buah saung telah disiapkan bagi
kami untuk menginap. Rasa lelah membuat kami tak banyak ngobrol malam itu.
Dalam sekejap, semua sudah terbuai dalam mimpi masing-masing.
Pagi
harinya, akhirnya saya baru bisa menikmati keindahan Sawarna seperti yang
selama ini saya dengar dari Asep. Pantai yang bersih dengan garis pantainya
yang panjang, tebing Tanjung Layar yang gagah menantang, dan masih banyak
tempat lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu keindahannya. Belum lagi
makanan lautnya yang berlimpah dan murah tentunya. Semua itu membuat kami betah
belum mau melanjutkan perjalanan yang seharusnya dilanjutkan menuju Sukabumi
hari itu. Kami sepakat untuk melupakan ke Sukabumi, kami extend menginap di
Sawarna. Belum puas mata ini rasanya menikmati satu lagi keindahan lukisan
Allah di muka bumi.